Sabtu, 15 Agustus 2015

Perkenalan

Di kampus barat negeri Sakura, aku lapar. Iya, aku lapar. Waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Padahal beberapa jam lagi masuk waktu makan siang. Sejak pindah ke Jepang nafsu makanku seakan meningkat double. Tak apalah, daripada nafsu berkembang biak yang bertambah double bisa bahaya. Nanti yang ada aku malah main sama Maria Ozawa atau Sora Aoi.

Aku yang kelaparan akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantin kampus. Ini pertama kalinya aku jajan di kampus. Karena, biasanya aku selalu makan bento, saat aku lapar. Tapi, bento itu untuk makan siangku. Aku mulai beranjak pergi ke kantin. Di kantin, aku mulai menggunakan mataku untuk mencari tahu jajanan apa yang akan ku beli.

Siomay. Aku melihat ada yang berjualan siomay di pojok kanan kantin. Sebenarnya yang mencuri perhatianku bukan siomaynya. Tapi, gadis yang ada di balik gerobak siomay itu. Gadis teduh yang tersenyum manis. Cantik dan manis. Matanya, senyumnya, seakan mantra sihir yang dirapalkan untukku. Aku tersihir olehnya. Dan dadanya. Hmm..

Baiklah aku akan jajan siomay itu dan berkenalan dengan gadis teduh si penjual siomay. Aku mulai mengatur langkah, suara, dan penampilanku, mendekati gadis itu dan gerobaknya. Saat memesan sepiring siomay, hidungku seakan mengenali harum jeruk dari tubuh gadis itu. Iya benar, aku dan hidungku kenal sekaligus akrab dengan harum tubuhnya. Harum yang seperti obat nyamuk. Mungkin aneh. Tapi, aku suka harum tubuhnya.

Sambil menungu pesananku datang di meja. Sesekali aku curi pandang ke dada gadis itu. Ok. Aku terhipnotis oleh dadanya. Tidak, maksudku, aku curi-curi pandang ke wajah gadis itu. Aku duduk memandangi wajahnya yang ayu, aku mulai mengingat-ingat wajah dan harum obat nyamuk di tubuhnya. Dia terlihat mirip dengan teman SD ku. Raisa. Teman SD yang saat itu pindah ke Jepang. Aku mulai menyimpulkan, mungkin benar kalau dia adalah Raisa, teman SD ku dulu.

Dia melihatku. Dengan sigap dia menyilangkan tangannya di depan dadanya. Sial aku ketahuan. Gadis teduh itu mulai datang mendekatiku dan membawa siomay pesananku di tangan kanannya. Dan tangan kirinya bersembunyi dibalik badannya, seperti ada yang disembunyikan dibalik sana. Entahlah.

Selesai ia meletakkan piring dimejaku. Aku memberanikan diri membuka percakapan.

“Hei. Boleh kenalan aku Daruma, orang baru di sini dan asli orang Indonesia. Kamu dari Indonesia juga, kan?” tanyaku sedikit malu.

Dia hanya membalas dengan senyuman, dan aku tersipu malu. Wajahku seakan memerah, semerah bibirnya. Gadis itu mulai duduk satu meja denganku, dia duduk di depanku.

“Iya, aku dari Indonesia. Ada apa?” jawab singkat si gadis teduh.
“Hmm. Biar ku tebak, namamu Raisa KW, bukan? Yang dulu pernah sekolah di SD Bojong Kondang Kecamatan Cidaha?

Aku sengaja menyebutkan lengkap nama SD ku, karena ku takut salah orang.

“Iya, kok, kamu tahu?” tanya Raisa -gadis teduh- mengheran.
“Kamu tidak ingat denganku? Kita pernah pernah satu bangku saat awal masuk di kelas dua. Tapi, seminggu setelah itu, kamu pindah ke Jepang.” jelasku panjang.
“Oh. Maaf, aku tidak ingat.”
“Hah. Sudahku duga. Kamu banyak berubah, ya. Apalagi dadanya, sudah tidak sekecil dulu. Itu asli?” bodoh, celetukan bodohku keluar dari mulutku. Aku malu.
“Hahahaha. Tentu saja ini asli. Kenapa? Kamu mau pegang. Nih!” jawab Raisa sambil menodongkan gir yang tadi disebumbunyikan di balik tubuhnya.

Itu nawawin apa ngancem, sih? Tentu saja aku mau pegang dadamu, Raisa. Astagfirullah.

“Maaf-maaf, aku keceplosan.” sanggahku cepat.
“Hahaahaha. Kamu sedang ada apa di sini? Liburan?” tanya Raisa.
“Tidak, aku sedang melanjutkan studiku di sini untuk beberapa tahun ke depan. Kamu sendiri, kenapa ada di kantin kampus?” tanyaku balik.
“Aku sedang bantu-bantu ayah. Kebetulan tempatku bekerja sedang libur minggu ini.” jawab Raisa.
“Oh. Kamu punya kunci Inggris, nggak?”
“hah? Nggak punya, tuh. Buat apa?” jawab Raisa heran.
“Hmm. Nggak punya, ya. Kalau alamat e-mail punya, kan?”
“Hahaha. Bilang saja mau minta e-mailku.”

Raisa mulai merogoh saku di dadanya, mengeluarkan secarik kertas dan pulpen, kemudian menuliskan alamat e-mailnya.

“Ini. Simpan dan ingat baik-baik, ya.” pinta Raisa sambil menyerahkan sepotong kertas.
“Ok. Terima kasih. Eh. Minggu ini kamu lagi libur, kan? Kapan-kapan kita jalan bareng, yuk! Kenalkan aku dengan seluk beluk negeri Sakura ini. Kamu kan sudah lama tinggal di negeri Sakura ini” pintaku penuh harap.
“Boleh. Kabarkan saja. Kapan waktunya? lewat e-maill, ya!”
“Sudah, ya. Aku mau bantu ayahku lagi. Dah~” lanjut Raisa.

Raisa mulai berdiri dari tempat duduknya, perlahan ia membalikkan badannya. Dan meninggalkan harum obat nyamuk di hidungku.

Sedikit, aku mulai nyaman dengan negeri Sakura ini. Aku bisa bertemu dengan teman lamaku. Walaupun ia tidak mengingatku. Akhirnya aku punya satu teman dari Indonesia juga. Raisa. Teman SD ku, dulu.

Setelah obrolan ringan dan cukup panjang itu, aku sampai lupa memakan siomay yang sudahku pesan. Dan jam sudah menunjukkan waktu masuk pelajaran berikutnya. Akhirnya aku hanya memakan satu sendok saja, lalu beranjak pergi menuju kelas. Tak apa. Aku cukup senang. Anggap saja ini seperti reuni kecil yang hangat. Hangat seperti dada Raisa di mataku. Maaf, maksudku hangat seperti wajah dan matanya yang teduh.

Jumat, 14 Agustus 2015

Surat Untuk Nona #7

Untuk nona yang songong.

Hai nona, aku sudah menerima suratmu. Lagi, kau membuatku tersenyum saat menerima suratmu. Aku sempat tertawa kecil saat kau menyamakan diriku seperti makhluk laut. Memangnya, apakah wajahku ini terlihat ketus dan kecut, seperti Squidward? Heheheh. Tenang saja aku tidak marah. Semoga itu panggilan yang baik.

Maaf, non, untuk surat kali ini aku menambahkan title songong untukmu dipembuka surat. Aku hanya binggung saja untuk menambahkan title untukmu. Semoga surat ini tidak ditafsirkan sebagai surat balas dendam. Sudahlah. Lupakan nama dan title itu. Apalah arti sebuah nama.

Hmm. Kabarku baik. Alhamdulillah. Tapi, beberapa pekan ini aku seperti jenuh. Jenuh dengan tulis menulis. Entah apa yang membebani dan memberatkan kepalaku. Seakan aku tidak bisa menggunakan kepalaku. Sepertinya aku butuh vitamin. Bahan bacaan, misalnya.

Nona, bagaimana kabar kuliah semester pendekmu? Semoga sukses dan lancar, ya.

Oh, iya. Di surat balasanmu begitu banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang mungkin juga aku pun tidak bisa menjawabnya. Apakah aku harus menjawab semua pertanyaanmu? Semoga tidak. Dan ada beberapa pertanyaan itu yang menurutku lucu. Iya lucu, seperti kamu dan keluargamu. Hahahaah.

Yang jelas aku selalu percaya bahwa hidupku ini hanya untuk beribadah. Karena keyakinanku itu, kepalaku berkata, bahwa aku setidaknya harus bisa bermanfaat untuk diri sendiri, dan orang lain. Sebab dengan kebermanfaatanku itu, mungkin bisa menjadi nilai ibadah untukku, orang lain, dan Sang Pembalas. Walau kadang aku malu. Kadang aku masih melakukan dosa dan khilaf.

Nona, aku masih punya PR besar dari guruku. Beliau bilang “kejarlah matahari, sebab bayangan pasti akan mengikutimu. Tidak sebaliknya. Jika kau mengejar bayangan kau akan jauh dari matahari” Entah apa maksud guruku. Yang jelas mengejar matahari juga mungkin tidak kalah lelahnya dengan mengejar bayangan. Apalagi kalau tidak ada yang menemani. Mungkin terasa sulit.

Tapi, kemarin aku menemukan sedikit jawaban. Saat aku pulang, aku satu angkot dengan seorang wanita. Aku lihat wajah dan matanya, dia terlihat teduh. Sepertinya usiaku dengannya tidak tepaut jauh. Saat ku lihat dia, awalnya aku kira wanita itu gila. Dia terus saja menggerakkan bibirnya. Aku pikir dia butuh kecupan di bibir. Bibirnya mangap-mangap, komat-kamit seperti ikan cupang.

Aku mulai menurunkan pandanganku menuju bagian dadanya. Sudahlah lewatkan bagian dada. Aku menurunkan kembali pandanganku ke bagian tangan dan jarinya. Ibu jarinya berpindah-pindah gerak menempati gerat-gerat yang ada di jari-jari lainnya. Sepertinya aku tidak asing dengan gerakan jari itu. Iya, aku tahu gerakan ibu jari dan jari-jarinya itu. Akhirnya aku tahu jawaban dari gerak bibirnya. Ternyata dia mangap-mangap bukan minta kecupan. Tapi, ternyata sepanjang perjalanan dia bertasbih dan bertahmid.

Diriku langsung malu saat melihat itu. Aku seakan ditegur. Dialah wanita teduh yang mungkin bisa menemaniku untuk mengejar matahari. Aku harus mencari wanita seperti dia. Wanita teduh. Entah kapan aku bisa betemu dengannya lagi. Atau menemukan yang sejenis dengannya.

Nona, apakah kau punya kenalan wanita teduh seperti itu? Hahahaha. Tidak perlu dijawab. Mungkin, ini pertayaan ngacoku. 

Hmm. Nona, mungkin sekian dulu suratku kali ini. Aku selalu bingung untuk membuat pembuka dan penutup surat. Oh, iya, non. Salam untuk keluargamu. Semoga kamu dan keluarga sehat selalu.

See you ~


Salam hangat


Seorang Hamba

Minggu, 09 Agustus 2015

ONE

Beberapa hari lalu sepulang dari kampus, gue bertemu anak-anak berseragam. Mereka mengenakan baju putih, berkerah lengan pendek dan celana panjang biru donker. Ada yang lengkap dengan atribut kain panjang yang melilit di balik kerah bajunya, sisa kainnya itu dibiarkan menggantung panjang di depan dada dan perut mereka. Namun, ada juga yang tidak memakai kain itu, dan membiarkan bajunya keluar dari celanannya. Sepintas gue menilai kalau itu tidak tertata dengan baik. Tapi sudahlah, sepertinya gue tidak boleh menilainya terlalu cepat. Sebab gue juga pernah seperti itu.

Iya, mereka ini adalah anak-anak SMP. Mereka lagi nongkrong-nongkrong di depan warteg. Warteg yang pernah gue tongkrongin semasa SMP, dulu. Sepertinya mereka baru saja pulang dari sekolah. Gue tahu karena, saat itu matahari sudah mulai sedikit merubah cahaya emasnya.

Secara fisik, beberapa dari mereka ada yang sepantar dengan gue. Bahkan ada yang lebih tinggi dan berisi dibanding gue. Mungkin, kalau gue didandanin memakai baju seperti mereka, gue pasti masih cocok kumpul bareng mereka. Selain itu ada juga yang mengepulkan asap dari mulutnya. Di antara jari kiri telunjuk dan tengahnya terselip benda putih sepanjang 100 mm. Dan diujung benda putih itu terlihat bercahaya. Cahaya yang terlihat seperti bara.

Mereka seperti akrab dengan benda putih itu. Beberapa dari mereka, ada juga yang duduk di atas bebek bermesin beroda dua. Mereka terlihat seperti orang-orang yang bebas dari beban hidup. Terlihat dari penampilannya, mulai dari gaya rambut yang stylish, pakaiannya yang tidak tertata rapi, dan beberapa atribut yang ada di jari serta lengan mereka. Mereka seakan lupa dengan statusnya saat ini.

Gegara melihat mereka, gue jadi ingat masa-masa gue sewaktu SMP, dulu. Tidak jauh berbeda dengan mereka. Sewaktu SMP gue juga sudah kenal dengan rokok, pakaian tidak rapi, motor, dan wanita. Tapi bedanya, gue menjadi pemeran pasif dari keempat hal tersebut. Ok. Gue mau membahas sedikit masa-masa SMP. Cekidot:

Pertama masuk SMP. Sewaktu gue kelas satu gue mulai kenal yang namanya wanita cantik dan pria tampan. Beruntung gue masuk kelas 73, di kelas ini cukup banyak cewek cantiknya. Apalagi sewaktu MOS. Kelas gue dibimbing oleh kakak kelas. Namanya Kak Ayu, Kak Aksa, dan Kak Firda. Gue lihat mereka seperti model, mereka terlihat tinggi di mata gue. Mungkin karena gue yang pendek. Kak Ayu dan Kak Firda mereka cantik-cantik, kulitnya putih dengan rambutnya melewati bahu. Terkadang rambutnya dikuncir seperti buntut kuda. Anggun. Lalu Kak Aksa, hampir semua OSIS di SMP dan adik-adik kelasnya pasti kenal dengan dia. Dia terlihat tampan dengan rambutnya yang cukup panjang dan bergaya belah pinggir, doi juga jago main basket.

Selain dari Kakak-kakak kelas yang kece-kece, di kelas gue juga ada cewe cantiknya. Yang gue ingat ada Nesti Nur Jaillah, dan Rosa Felani T. Sebenarnya ada beberapa lagi. Tapi, yang gue ingat cuma mereka berdua. Mau lihat buku tahunan SMP, udah nggak tahu itu buku ke mana.

Yang khas dari gue sewaktu kelas satu di SMP. Pas jam istirahat pertama tiba, gue selalu pergi ke perpustakaan. Iya, waktu itu gue belum punya teman, dan tidak begitu akrab dengan orang-orang. Menghabiskan waktu istirahat dengan tidur-tidur di sana. Karena di perpus itu adem banget, sudah ada AC di sana. Kalau pun tidak ke perpus gue makan bento yang gue bawa. Maklum uang jajan gue sedikit.

Lanjut ke kelas dua. Di kelas dua ini gue masuk ke kelas 86. Mulai kenal yang namanya nakal. Kelas 86 ini di kenal sebagai kelas badung. Ada tiga kelas 8, yang dikenal sebagai kelas badung, yaitu: kelas 86, 87, 88. Iya, karena di tiga kelas itu isinya ada anak-anak basis tempur SMP. SizTurn. Gue sekelas dengan Pandu, Theo, Rizal, dan beberapa lainnya. Kelakuan kita di kelas, kalau tidak ada guru atau jam kosong pasti waktu kosong itu di pake untuk main Smack Down, kuda tomprok, dan kadang godain Risma atau cewe lainnya di kelas 84. Tapi, yang lebih sering kalau jam kosong tiba, pasti cabut ke kantin. Borong semua jajanan yang ada di sana. Di kantin Ayu.

Kelas 86 itu kelas yang 'makmur' banget. Kelas ini jauh dari pantauan guru piket dan ruang guru. Sekolah SMP gue itu bentuk bagunannya seperti leter P. Ruang guru ada di paling pojok atas sebelah kanan dan kelas 86 itu ada di kaki huruf P, paling bawah pojok sebelah kiri. Karena 'strategisnya' kelas gue, kesempatan ini tidak mau dibiarkan begitu saja. Kadang kalau ada jam kosong setelah istirahat kedua, kesempatan itu dipakai untuk cabut dan pulang ke rumah. Atau pulang ke warnet, atau memenuhi janji untuk tempur dengan sekolah lain.

Berikutnya kelas tiga. Akibat dari 'bebasnya' gue di kelas dua. Pas di kelas tiga, gue masuk ke kelas 98. Kata orang semakin jauh kelasnya, maka, itu kelas warning. Kelas 91 itu kelas unggulan, 92 cukup unggulan, dan semakin ke ujung, maka, itu kelas yang kurang. Dan Lagi-lagi gue sekelas dengan Pandu dan Theo, ditambah lagi dengan Bonge, Fajri, dan Hadi. Lengkap sudah. Karena warning-nya kelas gue ini, posisi kelasnya tepat di sebrang meja guru piket dan ruang guru. Dan wali kelas gue adalah Bu Eny, guru yang paling dikenal sebagai guru killer. Tapi, sebenarnya dia baik. Banyak mengajari hal tentang kerapihan dan kebersihan.

Karena ingin membuat bangga wali kelas, kebiasaan cabut dari sekolah sudah mulai di kurang-kurangi. Tapi, kebiasaan untuk cabut ke kantin masih tetap berlanjut. Kalau cabut dari kelas menuju kantin cukup gampang. Pertama awasi meja piket, kalau ternyata sudah kosong gue, Hadi, dan Fajri cabut lewat jalan belakang musalah. Atau kalau pun ada guru piketnya kita pergi ke WC musalah dan lanjut menyelinap ke kantin yang ada di belakang musalah.

Tapi, hal yang paling berkesan saat SMP, menurut gue adalah saat berangkat dan pulang bareng teman-teman. Biasaanya saat berangkat, gue sama teman-teman yang lain nongkrong dulu di ruko-ruko dekat Masjid Agung Al Jihad Ciputat. Pas waktu sudah pukul 06:30 atau selambatnya 06:45, salah seorang dari rombongan nongkrong ini mulai bergerak mencari angkot yang bisa dicarter. Biasanya yang nyari carteran itu Theo atau Omen. Gue yang ikut ini merasa puas banget. Karena, gue bayar dua ribu (biaya normal) atau seribu. Dan itu rombongan carter angkot dianterin sampai depan pintu gerbang sekolah. Kadang cartenya sampai dua angkot. Satu angkot biasanya penuh banget sampai isi 20 orang, ada yang duduk di alas angkot, duduk di jendela, dan ada yang gantung sampai 5 orang di pintu angkot.

Sewaktu pulangnya juga tidak kalah serunya. Tapi, karena gue sama teman-teman rumahnya beda, saat pulang kita tidak carter angkot. Kita lebih memilih untuk naik koantas bima, bus, atau Mayasari Bakti. Naik ini jauh lebih murah ongkosnya cuma 500 perak, dari Kampung Utan sampai belokan Masjid Agung, kalau temen-temen gue 500 sampai Ramayana. Karena kebanyakan rumah mereka di daerah-daerah komplek Kejaksaan dan komplek Brimob. Hampir rata-rata semua cowo yang angkatan gue pulang naik koantas bima, dan ada beberapa adik kelas. Kadang kita naik 510, 102 (sampai Mega Mall doang), Patas 76, dan Mayasari. Kelakuan gue sama temen-temen gue ini meniru dari kakak-kakak kelas dan dari anak SMA/SMK Triguna.

Hampir keseluruhan kelakuan gue sewaktu SMP itu seru banget, kecuali tawuran. Gue ingat temen SMP gue yang jadi korban tawuran. Dia nggak bisa ikut pelajaran selama hampir satu semester karena pendarahaan sewaktu gir motor membentur kepalanya. Dan bahkan ada yang meninggal.

Sudah, ya. Mungkin itu kilasan masa SMP gue. Maaf kalau pembuka, isi, dan penutupnya aneh. Satu lagi SMP gue ini dapat julukan dengan nama ONE (dibaca dengan bahasa Indonesia). SMP ini terkenal dengan segudang prestasinya. Itu sebabnya SMP gue ini dapat julukan ONE. Mungkin yang gue ceritakan ini hal negatif. Tapi SMP gue punya dua lemari etalase gede yang isinya full medali dan piala-piala gede.

Kalau kelakuan kalian sewaktu SMP, seperti apa? Silakan ceritakan di kolom komentar.

Terima kasih buat kalian yang sudah baca. See you~