Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 April 2016

Sepotong Hati di Segelas Milkshake Cokelat Episode ke- XI

 Episode sebelumnya bisa dibaca di Wulan, Icha, Yoga atau di sini.

***
Episode ke- XI

“Mei?” kata Agus kaget. Tamu yang tidak disangka-sangka. “Ada apa, ya?”
“Januar-nya ada?”
Agus tidak menjawab pertanyaan itu. Ia langsung mempersilakan Mei untuk masuk dan menyuruhnya duduk. “Gue tinggal dulu ke dapur, ya. Tadi lagi masak air.”
Mei kemudian menunggu di ruang tengah karena rumah Agus memang tidak ada ruang tamunya. Ia duduk di sofa berwarna abu-abu yang panjangnya kira-kira muat untuk tiga orang. Sebagian rambut dan pakaian Mei yang basah karena sedikit kehujanan pun ikut membasahi sofa itu.
Sesekali Mei memerhatikan suasana rumah Agus. Begitu sepi. Ia pun mulai memandangi jejeran foto keluarga Agus yang terletak di dinding dan di bufet. Mei berdiri dan mendekati foto yang menempel di dinding. Terlukis senyum di bibirnya saat melihat kebersamaan keluarga mereka. Apalagi di foto itu, Januar kecil sedang merangkul adiknya, terlihat begitu menggemaskan. Lalu, Mei mengalihkan pandangannya ke foto-foto di atas bufet. Ada foto close up Januar balita sedang tertawa dan tidak melihat kamera. Melihat foto lucu itu, Mei pun memotretnya secara diam-diam menggunakan ponselnya.
“Maaf ya, lama,” ujar Agus mengagetkan Mei. “Lu ngapain deh berdiri di situ?”
“Ng... nggak, kok,” jawab Mei sedikit panik. Mei menatap kagum ke arah foto Januar balita sambil memasukkan ponselnya ke saku celana sebelah kanan tanpa sepengetahuan Agus. “Ini cuma lagi lihat-lihat foto Januar, dia dari kecil ternyata sudah Gganteng, ya.”
Agus  hanya tersenyum, tidak curiga sedikit pun kepada Mei yang tingkahnya seperti seorang pencuri. Walaupun sebenarnya memang seorang pencuri. Pencuri hati Agus dan Januar. Lalu, Agus menghampiri Mei dan menyodorkannya secangkir teh hangat yang manis. Agus tidak jadi memasak mi instan, airnya ia pakai untuk membuat teh.
“Diminum tehnya, ya.”
“Makasih,” kata Mei, lalu meminumnya.
Agus membalikkan badan, meninggalkan Mei sejenak untuk mengambil sesuatu dan membiarkan Mei melihat-lihat foto.
“Keringin dulu nih rambutnya,” kata Agus memberikan handuk kecil kepada Mei. “By the way, abang gue dari kecil emang udah cakep. Pinter pula. Gak kayak gue,” lanjutnya.
Kini, Agus kembali merasa cemen. Ia mendadak pesimis. Merasa kalau memang tidak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya jika dibandingkan dengan Januar.
“Hus!” ujar Mei. “Gak boleh ngomong gitu, ah. Setiap manusia lahir dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.”
“Tapi gue nggak ngerasa punya kelebihan,” ujar Agus semakin pesimis.
Mei masih menyapu rambutnya yang basah dengan handuk sambil memandangi wajah Agus. Memerhatikan kalau sebenarnya Agus juga cukup tampan. “Gak mungkin. Lu belum sadar aja sama kelebihan dalam diri lu. Hm... menurut gue, lu itu cowok yang baik. Itu sebuah kelebihan, kan?”
Iya, Agus memang laki-laki yang baik. Kalau tidak baik, mungkin dirinya sudah memerkosa Mei. Kebetulan rumahnya saat ini memang sedang kosong dan sepi hanya ada mereka di dalam rumah, apalagi ditambah cuaca yang mendukung. Namun, Agus tidak akan berbuat demikian. Ia tidak senista itu.
“Baik itu relatif, Mei,” sahut Agus. “Januar itu beda deh sama gue. Dia...,” Agus menarik napas panjang dan ingin meneruskan ucapannya, tapi ia sadar kalau ucapannya nanti hanya akan membuat dirinya semakin rendah di mata Mei.
Mei hanya manggut-manggut, kemudian melepaskan pandangan dari jajaran foto dan kembali duduk di sofa. Agus memerhatikan bibir mungil Mei yang meniup-niup kecil teh hangat yang dipegangnya. Kini, Agus ikutan duduk di sofa bersebelahan dengan Mei.
“Lu kenapa sampe nekat dateng ke rumah, sih?” tanya Agus. “Bukannya sudah tau, kalau kakak gue akhir-akhir ini sering pulang telat karena lembur?”
Sontak Mei meletakkan cangkir teh yang sedari tadi digenggamnya ke meja. Matanya menatap nanar Agus. Bibirnya yang sedari tadi sibuk dengan upaya mendinginkan teh yang masih cukup panas, kini ia gunakan untuk melontarkan ucapan, “Entahlah. gue merasa, Januar menghindar dari gue akhir-akhir ini, Gus.”
“Masa, sih?” tanya Agus, sedikit ragu.
“Iya. Tadi, gue dateng ke kantornya, tapi dia nggak ada. Kata beberapa karyawan di sana, dia sedang izin keluar kantor sejak siang hari.”
“Terus lu langsung mikir dia pulang? tanya Agus. “Udah lu coba telepon dia?”
“Ya, emang dia mau ke mana lagi? Makanya gue langsung ke sini. Ternyata sama aja. Nggak ada. Dihubungin lewat apa pun juga nggak ada respons. HP-nya dimatiin,” jawab Mei dengan kesal campur sedih.
“Waduh. Ke mana, ya, tuh anak?!” Sebuah pertanyaan retorik yang tidak memberikan solusi apa-apa.
Mei hanya mengangkat bahu. Agus pun penasaran dan mencoba menelepon kakaknya. Tapi sayang, HP-nya masih belum aktif juga.
“Apa dia selingkuh, ya?” tanya Mei tiba-tiba.
Agus jadi teringat akan malam itu, malam ketika mendengar kakaknya teleponan dengan entah siapa di sebrang telepon sana. Saat itu, ia juga berpikir kalau kakaknya selingkuh. “Waduh, lu jangan ngomong gitu dong. Jangan mikir yang enggak-enggak,” ujar Agus mencoba menenangkan hati Mei. Agus sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjelekkan kakaknya.
“Tapi udah tiga hari ini dia suka ngilang. Dan hari ini malah nggak ada kabar dari pagi.”
Ketika Mei terus berkeluh kesah dan berpikiran yang bukan-bukan tentang Januar, Agus mencoba untuk tetap membela kakaknya dan membuat Mei agar tidak negative thinking. Agus menyimpulkan kalau Januar sedang ada meeting dengan klien di luar kantor, makanya Januar menonaktifkan ponselnya karena tidak ingin adanya gangguan, termasuk dari pacarnya.
Mei berusaha untuk memercayai apa yang Agus katakan, namun karena tidak mampu menahan kesedihannya, kini gerimis juga ikut turun di sudut matanya. “Padahal hari ini dua tahunan kami jadian, tapi Januar gak bisa sebentar aja ngeluangin waktunya buat gue,” ucap Mei dengan terisak dan reflek memeluk Agus sambil menangis.
Agus tidak dapat berkata apa-apa lagi. Ada rasa nyaman dan bahagia yang tercampur dengan rasa bersalah. Tidak pernah menyangka kalau pacar kakaknya (yang juga ia sayangi) akan memeluk dirinya. Senyum Agus mulai mekar, wajahnya sedikit memerah. Agus mendengar dengan jelas isakan Mei. Ia juga mulai merasakan kalau kaosnya agak basah. Agus tetap membiarkannya. Barangkali hal itu dapat membuat Mei lega.
Setelah beberapa saat, Mei pun melepas pelukannya. “Maaf, Gus.”
Agus bergeming. Ada kecanggungan di antara mereka.
Setelah hening beberapa saat, akhirnya Mei memutuskan untuk pulang. Hujan di luar mulai mereda. Jam juga sudah menunjukkan pukul 20.45. Agus kemudian menawarkan diri untuk mengantarkannya.
***
Agus dan Mei masih saling diam sepanjang perjalanan. Mei tidak berbicara apa pun selain memberi tahu arah rumahnya. Agus juga masih takut untuk mengajaknya mengobrol. Situasi ini cukup membingungkan bagi Agus.
“Gus, kiri-kiri.” Tiba-tiba Mei menyuruh Agus untuk menepi. Agus jelas kaget, ia merasa seperti tukang ojek. Tapi, dengan lugunya ia tetap menurut. Agus memelankan laju motornya dan memilih untuk berhenti.
“Ada apa, Mei?” tanya Agus, begitu motornya menepi ke pinggir jalan.
Mei langsung turun dari motor, kemudian memilih duduk di halte. Agus pun mengikutinya. “Gue sebenarnya nggak pengen pulang dulu, Gus. Ada sesuatu yang mengganjal di hati gue.”
“Ada apa?” tanya Agus bingung bercampur rasa penasaran.
Mata Mei mulai gerah, berkaca-kaca, dan perlahan embun menetes dari matanya. Di saat itu juga, rintik hujan kembali membasahi bumi.
“Jangan nangis lagi, dong, gue nggak punya balon,” ujar Agus.
Mei berusaha menghapus air matanya. Ia menarik nafas, lalu berkata sambil tersenyum, “Menurut lu, kalau seandainya gue minta putus sama Januar, itu terlalu berlebihan gak, sih?”
Sontak Agus membelalakan matanya dan fokus ke wajah sendu Mei. Ucapan itu sungguh membingungkan. Membuat perasaan Agus terbagi menjadi dua kubu; di satu kubu  Agus turut sedih, di  kubu lainnya ada sedikit harapan dan keinginan kalau kenyataan itu akan terjadi.
“Gus, Agus? Lu kenapa bengong?” tanya Mei melihat Agus yang diam saja dan tidak merespons.
“A—apa?”
“Wah, lu mikir jorok, ya? Hahaha,” ledek Mei.
“Kagak-kagak.”
“Hahahaha. Halah. Terus?”
“Kagak. Sumpah deh!” ujar Agus membela diri.
“Parah. Gue lagi curhat juga. Dasar mesum! Hahahaha.”
Mei menyemburkan tawanya di hadapan Agus sambil perlahan-lahan menghapus air matanya. Tawa yang awalnya terdengar dipaksakan, tapi lambat laun menjadi tawa yang lepas dan tanpa henti. Melihat itu, Agus tidak dapat berkata apa-apa lagi. Bukan karena ia malu telah dituding mesum oleh Mei, tapi karena ia tak mau merusak pemandangan indah itu.
Kapan lagi bisa melihat bidadari tanpa sayap tertawa selepas ini? batin Agus sambil mengulas senyum.
Layaknya peri hujan, kesedihan Mei itu seolah mampu mengundang langit memanggil hujan. Dan tawanya kembali mencerahkan langit. Perlahan hujan reda kembali. Mei pun sampai lupa dengan pertanyaannya barusan.

***
Tepat pukul 22.00, Mei telah sampai di rumahnya. Di depan gerbang, Mei menawarkan Agus untuk mampir sebentar. Agus berusaha menolak, tetapi Mei terus memaksanya. Mau tidak mau, Agus pun masuk ke rumah. Namun, begitu mereka berdua memasuki rumah, di teras tampak seseorang yang mereka kenal dengan baik. Seorang laki-laki mengenakan kemeja berwarna abu-abu yang lengannya digulung hingga siku dan celana bahan hitam sedang duduk di teras.
“Januar, apa yang kamu lakukan ke saya itu jahap!,” kata Mei pelan. Mei pun berlari mendekati Januar.
Sudah setengah jam Januar menunggu kedatangan Mei. Ia segera berdiri menyambut kedatangan Mei.
“Kamu ke mana aja? 14 jam aku menungggumu.” tanya Mei.
Januar tidak menjawab.
“Kamu jahat!” kata Mei kesal. Setelah itu, Mei langsung memeluknya. Karena pelukan Mei terlalu kencang, Januar pun tidak sengaja menjatuhkan sesuatu yang dari tadi digenggamnya. Sebuah kotak kecil berwarna merah. Mei melepas pelukannya dan melihat ke arah kotak itu. Januar segera menunduk dan mengambil kotak itu. Januar tidak langsung berdiri, ia malah berlutut di hadapan Mei. Januar segera membuka kotak itu dan memperlihatkannya ke Mei. Isi kotak itu adalah sebuah cincin. Ya, Januar bermaksud mengajak Mei bertunangan. Januar ingin serius dengan Mei.
“Will you marry me?” tanya Januar.
Air mata bahagia pun mengalir dari mata Mei. Mei tidak dapat berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa mengangguk sambil menutupi rawut wajahnya yang penuh air mata itu. Dari pagi ia tidak  mendapatkan kabar dari Januar, namun malamnya ia dilamar. Sungguh kejutan yang luar biasa.
Di kejauhan, Agus menyaksikan semuanya. Ia sudah sepenuhnya sadar kalau Mei memang ditakdirkan dengan kakaknya. Bukan dirinya. Ada ingatan yang dengan tiba-tiba menusuk isi kepala Agus. Sebuah peristiwa minggu lalu, di pagi yang penuh luka dan duka.

Jumat, 15 Januari 2016

Sepotong Hati di Segelas Milkshake Coklat (Bagian Tiga)

Bagian Satu: http://wulankadek.blogspot.co.id/2016/01/sepotong-hati-di-segelas-milkshake.html

Bagian Dua: http://cacatanichahairunnisa.blogspot.co.id/2016/01/sepotong-hati-di-segelas-milkshake.html
 
Note: Maafken, Adminnya, Darma, memang sombong nggak bisa balas balasin komen kalian. Namun, jangan sungkan berikan saran dan kritik yang membangun dari tulisan kami. Hormat kami WIDY. (Wulan, Icha, Darma, Yoga)


***

Sebelum meninggalkan WIDY cafe, dari motornya Agus menatap ke arah kafe itu lagi untuk sesaat. Sedikit menyesal kenapa harus buru-buru pergi dari tempat itu. Tempat yang mempertemukan dirinya dengan seorang gadis lucu. Gadis yang membuat dirinya rela berbohong bilang ada janji dengan teman, padahal Agus hanya belum siap untuk mengenal Mei lebih dekat.

Maaf Mei. Sepertinya aku masih betah jadi pengagum dalam diammu, ucapnya dalam hati.


***


Dua minggu setelah pertemuan itu, Agus jadi lebih sering bermain ke WIDY cafe. Agus bermain tidak kenal waktu. Selain ia menjadwalkan dirinya pada hari Rabu untuk ke kafe WIDY di jam-jam saat ia berjumpa dengan Mei kala itu, Agus juga selalu bolak-balik ke kafe tiap satu jam pelajaran mata kuliah selesai. Bahkan, Agus pernah sesekali tidak masuk kuliah lalu nongkrong seharian di WIDY cafe dengan harapan dapat bertemu Mei.
Namun, usaha yang Agus lakukan di dua minggu itu nihil. Agus sama sekali tidak bertemu dengan Mei di kafe itu. Tapi, seorang Agus ialah tipe orang yang tidak mudah berputus asa, ia tetap melakukan ritual jemput bola ke kafe setiap harinya.
Setiap Agus melakukan ritual jemput bolanya, ia selalu tergesa-gesa menuruni tangga dan berlarian di lobi kampus. Agus sangat berbesar harap untuk bertemu dengan Mei lagi. Namun, lagi-lagi yang diharapkan Agus pun belum terwujud.

***


Harapan gue sirna. Gak mungkin kayaknya kalo kebetulan itu dateng lagi. Tapi, selama dua minggu ini lu ke mana, Mei? Batin Agus bertanya-tanya.
Sepertinya Agus mulai rindu akan sosok Mei.
Wanita yang sebelumnya hampir tidak pernah absen ngopi dan membaca buku di Widy Cafe, kini justru menghilang tanpa jejak.
Agus duduk dan melamun lama di bangku yang berada di lorong kampus di area fakultasnya, Fakultas Ekonomi.
Ya, Agus ialah seorang mahasiswa jurusan Manajemen. Meskipun dirinya masih belum bisa me-manage apa pun dengan baik. Namun, ia telah memilih jurusan tersebut. Jurusan yang kini membuat dirinya perlahan-lahan dapat berkomunikasi atau berinteraksi dengan baik.
Karena sebelumnya, ia memang tidak banyak bicara. Ia lebih sering diam, selalu menyendiri, dan sulit bergaul.
Di jurusan Manajemen ini, Agus mendapatkan banyak ilmu. Salah satunya harus dapat berkomunikasi dan menjalin hubungan baik dengan klien. Ya, seorang manajer yang baik pasti memiliki kemampuan itu.

Seandainya aja gue bisa bertemu Mei lagi, gue berjanji untuk tidak grogi seperti kejadian waktu itu. Agus berkata dalam hati. Berjanji kepada dirinya sendiri.

"Agus, kan, ya?" sahut seseorang.
Suara lembut itu membuyarkan lamunannya. Agus tidak percaya akan sosok yang hadir di hadapannya. Dia adalah Mei. Gadis yang ia harap-harapkan datang selama dua minggu ini.

Ya Tuhan, ada bidadari. Apa sekarang gue udah di surga?
Agus takjub beberapa saat, hingga ia pun sadar kembali saat Mei memanggilnya untuk kedua kalinya.
“Gus?”

"E-ehh, elu. Ngapain di sini?" tanya Agus. Pertanyaan yang sangat bodoh.

Untung saja Mei tidak menjawab, "Oh... ini ada tugas dari dosenku. Disuruh bakar Fakultas Ekonomi."

"Gue kuliah di sinilah," jawab Mei. "Menurut lu emang gue lagi ngapain? Haha," lanjutnya.

"Loh, berarti kira satu kampus, ya?" tanya Agus. Lagi-lagi pertanyaan yang keluar dari mulut Agus sangat bodoh.

Tadi gue udah janji supaya gak grogi. Kenapa sekarang malah bertingkah bloon lagi? Bego amat gue! Agus mencela dirinya sendiri dalam hati.

"Sepertinya begitu."

"Oiya, duduk sini, Mei. Berdiri terus gak pegel?" kata Agus meledek.
"Gue mau langsung ke Widy Cafe, sih. Lu mau ke sana juga gak?" ajak Mei.
Tanpa berpikir panjang, Agus segera bangkit dari tempat duduknya. Berjalan bersama Mei menuju tempat favoritnya.
Dan selama perjalanan menuju Widy cafe, mereka berdua mulai membicarakan beberapa hal. Di antaranya: mengenai perkuliahan. Topik yang paling mudah untuk diulas.


BERSAMBUNG

***

Untuk cerita selanjutnya silakan lari ke Blognya Yoga. Kemungkinan hari Minggu akan di posting lanjutan ceritanya atau bisa lebih cepat.

Minggu, 23 Agustus 2015

Nyamuk di Stasiun

Huh.. Aku mulai suntuk mengerjakan tugas kuliahku. Sudah hampir 120 menit aku berkutat dan menyendiri di dalam kamarku. Sudah hampir 120 menit juga, aku membenturkan isi kepalaku dengan layar netbookku.

Sedikit aku mulai memberikan jarak di kepalaku . Bukan. Bukan daun jarak yang ku maksud. Tapi, ruang sela antara isi kepalaku dengan penatku. Aku yang mulai jenuh dengan tugas kuliah memutuskan untuk berhenti. Berhenti sejenak mengerjakan tugas kuliah dan memilih untuk memikirkan hal lain. Seperti merencanakan hal untuk pergi ke suatu tempat, misalnya. Aku mulai mencari pemandangan lain di sisi kamarku, melemparkan pandanganku ke sisi kiri kamar. Sisi dimana aku bisa melihat cuaca hari ini dari balik jendela kamarku.

Tetiba aku ingat kejadian di kantin kampus beberapa hari lalu. Kejadian saat aku berjumpa dengan temanku di sana. Gadis yang aku jumpai di sana. Ada yang khas dari gadis itu. Selain memiliki dada besar, dia juga memiliki harum tubuh yang seperti obat nyamyuk beraromakan kulit jeruk. Sepertinya aku akan memanggilnya gadis soffel.

Aku mulai memikirkan rencana untuk mengajak dia jalan. Lagi pula, kemarin dia sepertinya mau aku ajak jalan. Aku mulai mengambil sepotong kertas dari dompetku. Kertas yang bertuliskan alamat e-mailnya. Kertas yang kemarin ia berikan padaku.

Mulaiku memainkan jari. Membiarkan isi kepala dan jariku menyatu. Jariku menari dan merangkai kata di tombol netbookku. Membuat kata dan kalimat serupa undangan, tuk mengajak gadis soffel jalan bersamaku.

“Sore ini? Iya boleh saja. Memang kamu mau ajak aku jalan ke mana?” balasnya dalam e-mail.
“Entahlah. Kamu kan lebih tahu tentang negeri ini. Yang jelas antarkan aku ke tempat serupa toko buku.” balasku padanya.
“Oh. Kalau begitu kita ke stasiun dekat rumahku saja. Stasiun Hakata. Di sana ada Gramedia, kalau tidak salah.” katanya memberikan jawaban.
“Ok. Jam 17:00 ketemuan di stasiun Hakata, ya!” kataku memutusan.

Janji sudahku buat, sekarang aku harus bergegas mandi, dan merapihkan diri. Saat aku masuk kamar mandi, aku baru ingat, sumur di kosanku sedang kering. Hanya ada air satu gayung, ini pun aku hemat untuk keperluan eek dan pipisku. Aku memutuskan untuk cuci muka dan ketekku saja. Aku sudah dimakan waktu. Lima belas menit lagi waktu menempati pukul 17:00. Aku yang selesai mencuci muka, mendadak panik dan buru-buru pergi ke tempat janji. Bermodalkan pakaian terbaikku dan parfum hamalku, aku nekat bertemu dengannya dalam keadaan belum mandi. Semoga saja dia tidak tahu.

17:03 waktu bagian Jepang. Aku tiba di stasiun Hakata. Dari kejauhan aku bisa melihat dirinya sedang mensedekapkan kedua tangannya, menungguku di depan loket karcis. Mengenakan kaos hitam dengan celana jins biru gelap, dan tak luput kardigan ungu yang membalut tubuhnya yang indah. Sedikit wajahnya mirip dengan Kak Rose dalam film Upin Ipin. Jutek namun, menggemaskan. Rambutnya yang panjang dan ikal di ujungnya, diikat satu seperti ekor kuda. Menambah kesan manis pada dirinya. Sempurna.

Aku tahu bahwa itu adalah dia, si gadis soffel. Tentu saja aku tahu, dia adalah satu-satunya gadis paling aneh di sana. Aku sengaja mensugestikan diriku, bahwa dia adalah gadis aneh. Dengan begitu, aku berharap, aku tidak akan suka padanya. Meski sebenarnya. Sudahlah lupakan itu. Aku buru-buru lari menghampiri dirinya. Aku merasa malu karena telat 3 menit.

“Huft... Maaf aku telat.” kataku sedikit menahan letih.
“Plaaakk” dia menamparku, tamparan telak di pipi kananku.
“Kok, aku ditampar?” tanyaku heran.
“Iya. Itu tadi ada nyamyuk di pipimu. Kamu belum mandi, ya? Kok, dinyamukin gini.” katanya pajang.
“Masa sudah wangi begini dibilang belum mandi. Sudahlah, di mana toko bukunya?” kataku mengalihkan pembicaraan.

Setelah berjumpa dengannya di stasiun Hakata, kami beranjak pergi ke Gramedia yang tidak jauh dari sana. Di sepanjang perjalanan kami banyak bertukar cerita. Tentang dirinya, tentang diriku, tentang kita. Sedikit aku menemukan poin-poin penting tentang dirinya. Dia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Dia suka sekali makan mie, suka minum susu padahal dia punya susu, dan suka jus alpukat. Kalau tidur selalu pakai selimut. Dan bulan depan adalah bulan kelahirannya. Baru itu saja yang aku tahu tentangnya.

Tiba di dalam toko buku kita berpencar. Seakan masing masing dari kami ingin mencari buku yang kita inginkan masing-masing. Awalnya aku menawarkan diri untuk membelikan dia satu buku. Namun, ia menolaknya. Dia lebih memilih meminta jajan untuk ditraktir makan mie di rumah makan dekat stasiun juga. Setelah satu jam lebih berkeliling di toko buku, aku berhasil membawa pulang tiga buku. Dua buku novel, dan satu buku kamus tejemahan.

Sekembalinya kita berpencar, dia langsung saja menagih janjiku untuk mentraktirnya malam ini. Mentraktirnya untuk makan mie di rumah makan dekat stasiun, yang tidak jauh dari toko buku. Tanpa basa basi dia langsung menarik tanganku, dan menyeretku pergi ke rumah makan yang ia maksud.

Entahlah. Saat dia menyentuh tanganku, nafasku seakan berhenti, waktu seakan melambat. Dan bayangku, terbang melayang memikirkan masa depan bersamanya. Kahlil Gibran pernah berkata “saat tangan laki-laki dan perempuan bersentuhan, saat itulah mereka berdua telah menyentuh keabadian.” Aku sebenarnya kurang paham perkataan si penyair itu. Perkataannya yang aku dapatkan dari timeline pada salah satu media sosial. Tapi, apa mungkin yang dimaksudnya itu seperti yang saat ini aku rasakan. Entahlah.

Diriku seakan pasrah, saat tangannya menarik tanganku. Membawaku pergi entah ke mana. Berlari bersama melewati jejaran dan jajaran ruko di sepanjang jalan. Lalu berhenti depan rumah makan mie.

“Kita akan makan di sini. Ini tempat langgakanku.” katanya dengan riang “kamu yang bayarin kan?” katanya melanjutkan.
“Iya aku yang bayar. Makan saja sepuasmu.” jawabku menyombong.
“Hahahahhaha. Porsi makanku banyak, loh.” jawabnya menjelaskan.

Dan benar saja. Saat kita duduk di meja makan nomor empat belas. Dia memesan tiga mangkok mie. Dua mangkok untuknya, dan satu mangkok untukku. Dilanjut lagi dengan memesan dua gelas susu soya, satu jus alpukat, dan segelas air putih.

Sambil menunggu pesanan tiba, kita saling bercerita tentang masa SD dan SMP dulu. Aku bercerita tentang masa SD ku yang dulu pernah masuk ke dalam toilet cewe waktu bermain petak umpat. Dan di dalam toilet ada adik kelas yang sedang pipis. Lalu, ia bercerita tentang masa SD nya yang selalu di antar jemput oleh bus sekolah.

Usai bercerita dan makan malam saat itu, aku langsung merogoh saku celanaku. Bersegera tuk mengambil dompet dan membayar semua pesanan di meja. Namun, aku mulai panik. Mendapati bahwa dompetku tidak ada di saku celana, tempat biasa aku menaruh dompet. Sesaat aku sadar, ketika pulang dari toko buku menuju rumah makan ini, ada orang yang menabrakku di jalan. Sepertinya aku telah kemalingan.

“Maaf, kamu bawa uang lebih, tidak?” kataku memelas.
“Kenapa? Jangan bilang uangmu kurang?” balasnya sedikit panik.
“Bukan. Sepertinya dompetku hilang, dicuri orang sewaktu jalan ke sini.” kataku menjelaskan.
“Yah. Terus ini siapa yang bayar? Aku tidak bawa uang.” jawabnya panik.
“Hmm. Disini tidak bisa ngutang dulu, ya?” tanyaku tak memberi solusi.

Mendengar pembicaraan kami, seorang pelayan langsung menelpon entah siapa dari meja kasir. Tidak lama setelah itu seorang pelayan datang bersama pria berbadan besar. Sepertinya dia adalah pemilik rumah makan ini. Kita pun melakukan negoisasi. Dan mendapat hukuman untuk mencuci puluhan piring kotor sebagai bayarannya. Satu jam sudah kita membersihkan piring kotor. Yang tadinya kenyang kini menjadi lapar kembali.

Waktu sudah malam. Mau tidak mau aku harus mengantarkan gadis soffel pulang. Kita pun jalan pulang bersama menuju rumahnya yang tidak jauh dari rumah makan dan stasiun. Sedikit langkahnya sudah mulai gontai dan melambat. Aku khawatir ia akan pingsan di jalan.

“Kamu kenapa?” tanyaku.
“Aku ngantuk, ini sudah jamnya aku tidur” jawabnya.
“Naiklah ke pundakku, biar ku gendong dan ku antar pulang” pintaku menawarkan diri sambil jongkok di depannya..
“Tak usah, rumahku dekat dari sini." katanya sedikit menolak.
“Hei, jangan tolak niat baik seseorang, dong. Naiklah." pintaku merajuk.

Setelah bujuk rayu yang cukup lama, akhirnya dia naik ke pundakku. Awalnya aku kesulitan membawanya. Ternyata dia cukup berat dari apa yang kubayangkan. Kurasa yang membuat dirinya berat adalah dadanya yang besar.

Akhirnya malam ini kita pulang bersama. Tidak lama setelah itu, ia tertidur dipundakku. Aku yang sedikit kerepotan masih melanjutkan jalan mengikuti rute yang telah ia tunjukkan sebelumnya. Sambil ditemani angin malam yang cukup dingin. Sesekali aku membaui tubuhnya yang harum, seperti obat nyamuk. Aku dihadapannya bagaikan nyamuk tak berdaya, terbius mati oleh harum tubuhnya.

Sabtu, 15 Agustus 2015

Perkenalan

Di kampus barat negeri Sakura, aku lapar. Iya, aku lapar. Waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Padahal beberapa jam lagi masuk waktu makan siang. Sejak pindah ke Jepang nafsu makanku seakan meningkat double. Tak apalah, daripada nafsu berkembang biak yang bertambah double bisa bahaya. Nanti yang ada aku malah main sama Maria Ozawa atau Sora Aoi.

Aku yang kelaparan akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantin kampus. Ini pertama kalinya aku jajan di kampus. Karena, biasanya aku selalu makan bento, saat aku lapar. Tapi, bento itu untuk makan siangku. Aku mulai beranjak pergi ke kantin. Di kantin, aku mulai menggunakan mataku untuk mencari tahu jajanan apa yang akan ku beli.

Siomay. Aku melihat ada yang berjualan siomay di pojok kanan kantin. Sebenarnya yang mencuri perhatianku bukan siomaynya. Tapi, gadis yang ada di balik gerobak siomay itu. Gadis teduh yang tersenyum manis. Cantik dan manis. Matanya, senyumnya, seakan mantra sihir yang dirapalkan untukku. Aku tersihir olehnya. Dan dadanya. Hmm..

Baiklah aku akan jajan siomay itu dan berkenalan dengan gadis teduh si penjual siomay. Aku mulai mengatur langkah, suara, dan penampilanku, mendekati gadis itu dan gerobaknya. Saat memesan sepiring siomay, hidungku seakan mengenali harum jeruk dari tubuh gadis itu. Iya benar, aku dan hidungku kenal sekaligus akrab dengan harum tubuhnya. Harum yang seperti obat nyamuk. Mungkin aneh. Tapi, aku suka harum tubuhnya.

Sambil menungu pesananku datang di meja. Sesekali aku curi pandang ke dada gadis itu. Ok. Aku terhipnotis oleh dadanya. Tidak, maksudku, aku curi-curi pandang ke wajah gadis itu. Aku duduk memandangi wajahnya yang ayu, aku mulai mengingat-ingat wajah dan harum obat nyamuk di tubuhnya. Dia terlihat mirip dengan teman SD ku. Raisa. Teman SD yang saat itu pindah ke Jepang. Aku mulai menyimpulkan, mungkin benar kalau dia adalah Raisa, teman SD ku dulu.

Dia melihatku. Dengan sigap dia menyilangkan tangannya di depan dadanya. Sial aku ketahuan. Gadis teduh itu mulai datang mendekatiku dan membawa siomay pesananku di tangan kanannya. Dan tangan kirinya bersembunyi dibalik badannya, seperti ada yang disembunyikan dibalik sana. Entahlah.

Selesai ia meletakkan piring dimejaku. Aku memberanikan diri membuka percakapan.

“Hei. Boleh kenalan aku Daruma, orang baru di sini dan asli orang Indonesia. Kamu dari Indonesia juga, kan?” tanyaku sedikit malu.

Dia hanya membalas dengan senyuman, dan aku tersipu malu. Wajahku seakan memerah, semerah bibirnya. Gadis itu mulai duduk satu meja denganku, dia duduk di depanku.

“Iya, aku dari Indonesia. Ada apa?” jawab singkat si gadis teduh.
“Hmm. Biar ku tebak, namamu Raisa KW, bukan? Yang dulu pernah sekolah di SD Bojong Kondang Kecamatan Cidaha?

Aku sengaja menyebutkan lengkap nama SD ku, karena ku takut salah orang.

“Iya, kok, kamu tahu?” tanya Raisa -gadis teduh- mengheran.
“Kamu tidak ingat denganku? Kita pernah pernah satu bangku saat awal masuk di kelas dua. Tapi, seminggu setelah itu, kamu pindah ke Jepang.” jelasku panjang.
“Oh. Maaf, aku tidak ingat.”
“Hah. Sudahku duga. Kamu banyak berubah, ya. Apalagi dadanya, sudah tidak sekecil dulu. Itu asli?” bodoh, celetukan bodohku keluar dari mulutku. Aku malu.
“Hahahaha. Tentu saja ini asli. Kenapa? Kamu mau pegang. Nih!” jawab Raisa sambil menodongkan gir yang tadi disebumbunyikan di balik tubuhnya.

Itu nawawin apa ngancem, sih? Tentu saja aku mau pegang dadamu, Raisa. Astagfirullah.

“Maaf-maaf, aku keceplosan.” sanggahku cepat.
“Hahaahaha. Kamu sedang ada apa di sini? Liburan?” tanya Raisa.
“Tidak, aku sedang melanjutkan studiku di sini untuk beberapa tahun ke depan. Kamu sendiri, kenapa ada di kantin kampus?” tanyaku balik.
“Aku sedang bantu-bantu ayah. Kebetulan tempatku bekerja sedang libur minggu ini.” jawab Raisa.
“Oh. Kamu punya kunci Inggris, nggak?”
“hah? Nggak punya, tuh. Buat apa?” jawab Raisa heran.
“Hmm. Nggak punya, ya. Kalau alamat e-mail punya, kan?”
“Hahaha. Bilang saja mau minta e-mailku.”

Raisa mulai merogoh saku di dadanya, mengeluarkan secarik kertas dan pulpen, kemudian menuliskan alamat e-mailnya.

“Ini. Simpan dan ingat baik-baik, ya.” pinta Raisa sambil menyerahkan sepotong kertas.
“Ok. Terima kasih. Eh. Minggu ini kamu lagi libur, kan? Kapan-kapan kita jalan bareng, yuk! Kenalkan aku dengan seluk beluk negeri Sakura ini. Kamu kan sudah lama tinggal di negeri Sakura ini” pintaku penuh harap.
“Boleh. Kabarkan saja. Kapan waktunya? lewat e-maill, ya!”
“Sudah, ya. Aku mau bantu ayahku lagi. Dah~” lanjut Raisa.

Raisa mulai berdiri dari tempat duduknya, perlahan ia membalikkan badannya. Dan meninggalkan harum obat nyamuk di hidungku.

Sedikit, aku mulai nyaman dengan negeri Sakura ini. Aku bisa bertemu dengan teman lamaku. Walaupun ia tidak mengingatku. Akhirnya aku punya satu teman dari Indonesia juga. Raisa. Teman SD ku, dulu.

Setelah obrolan ringan dan cukup panjang itu, aku sampai lupa memakan siomay yang sudahku pesan. Dan jam sudah menunjukkan waktu masuk pelajaran berikutnya. Akhirnya aku hanya memakan satu sendok saja, lalu beranjak pergi menuju kelas. Tak apa. Aku cukup senang. Anggap saja ini seperti reuni kecil yang hangat. Hangat seperti dada Raisa di mataku. Maaf, maksudku hangat seperti wajah dan matanya yang teduh.

Selasa, 30 Juni 2015

Tewas

Zaky sudah memikirkan cara untuk membunuh Chiko. Dia sudah menyiapkan pisau dapur di tangannya. Layaknya seorang pencuri, Zaky mengendap-endap mendekati Chiko dengan tangan kanan yang mengacungkan pisau.

Dari belakang Zaky berhasil menyekap Chiko. Tidak ada perlawanan yang cukup dari Chiko, karena memang tubuh Zaky jauh lenih besar. Tanpa ragu Zaky meraih leher dan dengan cepat mendaratkan pisau tepat di atas leher Chiko. Merobek dan memotongnya. Terdengar suara Chiko yang mengerang kesakitan. Tubuhnya mengejang, meronta seperti ikan yang keluar dari kolam. Chiko hanya menatap Zaky dengan penuh emosi. Tatapan mata Chiko seakan mengutuk Zaky. Dan akhirnya Chiko tewas di tempat.

Beberapa saat kemudian Ibu Zaky datang. Ibunya terkejut melihat Zaky yang memegang pisau berlumur darah di halaman rumahnya, ia langsung berlari mendekati Zaky.

“Astagfirullah Al 'adzim, Zaky, istigfar kamu, Nak” teriak ibu.
“Ibu. Ibu sudah datang” sahut Zaky sedikit terkejut.
“Kamu kenapa membunuh Chiko?” tanya ibu seakan mengintrogasi.
“Maaf bu, saya terpaksa melakukan ini.”
“Kamu lupa pesan ayahmu, untuk terus menjaga dan merawat Chiko.”
“Tapi bu, aku memotongnya karena aku lapar. Dan aku juga sudah membaca basmalah.”
“Chiko itu kan ayam pencari nafkah keluarga kita. Ayam jago adu kebanggaan ayahmu, kalau ayahmu masih ada pasti ia akan marah besar kepadamu.”

Panjang lebar ibu Zaky berbicara, memarahi Zaky yang telah melanggar wasiat pesan ayahnya. Dan sesekali menceritakan kisah ayahnya saat dahulu merawat Chiko, Zaky hanya merunduk mendengarkan omelan panjang ibunya yang seperti kereta.

“Sudahlah, ibu capek. Marahin kamu lagi, Zaky” dengan nada sedikit kesal ibu meyudahi omelannya.
“Maafin Zaky, bu” sahut Zaky pelan.
“Yasudah, kamu lanjutkan potong-potong Chikonya. Ibu baru saja pulang dari pasar belanja kecap. Sepertinya daging Chiko enak kalau dijadikan opor” kata ibu Zaky yang mulai mereda marahnya.
 ***
Terima kasih sudah membaca. See you ~

Senin, 22 Juni 2015

Terbawa Perasaan

“Selamat ulang tahun, Zaky. Kamu merem dong, aku mau kasih hadiah buat kamu.” ucap Hayati.

Tanpa ragu aku menuruti permintaan Hayati. Dalam pejaman mataku aku masih bisa melihat paras cantik wajahnya. Aku tahu ini hanya ilusi dari otakku. Namun sepeti nyata, aku hafal sekali detail dan lengkung wajahnya. Bayang wajah ini, memang dia. Hayati.

Hayati Nur Jamilah. Gadis berdarah Minang dan Sunda ini sudah lamaku kenal sejak tiga tahun lalu. Gadis yang sudah lama memenangkan hatiku saat pertama kali aku mengenalnya. Wajahnya yang bulat oriental terlihat sempurna di mataku. Ada yang khas pada wajahnya. Tahi lalatnya. Entah kenapa aku suka dengan tahi lalat yang ada didekat alis kirinya. Dia terlihat manis dan seksi, terutama dibagian bibirnya yang merah merekah. Sepertinya aku bisa merasakan manisnya strawberry saat melihat bibirnya.

“Kamu mau kasih hadiah apa sih, Ti?” tanyaku penasaran.
“Mmmuuuaaaacchh”

Sebuah kecupan mendarat di pipiku. Aku mendapatkan kecupan nikmat di pipi kanan dan kiriku darinya. Inikah hadiahnya untukku. Sontak mataku langsung terbuka, wajahku memerah. Sesaat aku merasakan jantungku berhenti berdetak. Darahku mengalir deras memenuhi isi kepala.

“Ih kamu, apa apaan sih? Ini kan tempat umum, bikin malu saja.” ucapku sedikit malu.
“Hahahah... Selamat ulang tahun ya, kesayanganku. Harusnya kamu lihat kaca, Ky. Wajahmu memerah bagaikan tomat.” ucap Hayati dengan tawanya yang lepas.
“Sepertinya ada yang kurang dari hadiahmu, Ti” ucapku penuh harapan.
“apa?” tanya Hayati.

Aku pun menunjuk bibirku dan menggerak-gerakkan alisku. Dalam bantinku, aku benar-benar berharap dia mendaratkan lagi kecupan nikmatnya di atas bibirku.

“Nih!!”

Hayati menodongkan kepalan tangannya di depan wajahku.

“Hahaha... Habis kamu bikin aku mupeng saja.” jawabku.
“Hahahha.. itukan hadiah special dari aku, Ky. Sudah yuk kita pulang. Makanan ini kamu yang bayar, kan?”
“Iya, aku yang bayar. Thanks ya, hadiahnya sesuatu banget” ucapku sedikit tersipu.

Malam pukul 21:00 sepulang dari warung makan Nasi Uduk Ok, aku tidak langsung tidur. Sejenak aku rebahan di sofa ruang tamu. Melepas lelah yang sejak tadi hinggap di punggungku. Tapi kalau di ingat-ingat kejadian hari ini, kecupan nikmat itu sepertinya sudah membayar semua lelahku. Lelah di tubuhku mendadak sirnah saat aku membanyangkan dua kecupan di pipiku sore ini. Aku pun menyentuh dan meraba kedua pipiku dengan lembut.

“Iya, ini memang strawberry.” ucapku setelah menyentuh pipiku dan menjilat jariku.

Lagi, perasaanku dibuat melayang oleh sikapnya. Hadiah ulang tahunku kali ini benar-benar spesial. Hingga saat ini degup jantungku masih berdebar dibuatnya. Zaky Jamiluddin dan Hayati Nur Jamilah. Sedikit berdesir dalam hatiku, mungkin aku dan dirinya memanglah jodoh. Sebab namaku dan namanya memiliki kesamaan. Sama-sama memiliki unsur nama Jamil. Akupun mulai senyum-senyum sendiri, seperti baru melihat adegan lucu dalam film Sponge Bob. Akhirnya aku putuskan untuk mengatakan cinta padanya, besok.

Sudah tiga tahun aku bersamanya, sepertinya aku sudah cukup banyak mengenal dirinya. Aku pun terbangun dari rebahan santaiku. Berbegas pindah menuju kamarku dilantai dua. Ganti baju dan bersiap untuk tidur sambil membanyangkan peristiwa indah sore ini.

Sabtu pagi pukul 09:00, aku sedang asyik menggosok baju. Baju yang aku persiapkan untuk malam nanti bertemu dengan Hayati. Ngapel ke rumahnya dan menyatakan cintaku padanya. Sambil menggosok aku pun membayangkan bagaimana caranya “menembak” dirinya? Tiba-tiba aku dikagetkan dengan handphone-ku yang berdering. Ternyata itu sebuah SMS dari Hayati.

“Zaky, sore ini kamu bisa ke rumahku tidak? Aku mau tanya tugas IPA minggu lalu, sekalian kita belajar bareng. Mumpung malam minggu, nih. Heheheh.... :)”
“Iya, aku pasti datang.” jawabku singkat dalam SMS.
“Thanks, Zaky~ di tunggu, ya!”

Sore pun datang. Sepertinya motorku ngadat, si jagur tidak mau menyala. Aku coba cek beberapa bagian motorku. Tidak ada masalah, hanya saja busi motorku memang sudah terlihat kotor. Aku memutuskan pergi ke rumah Hayati dengan menaiki kereta. Rumahku dengan Hayati cukup jauh. Aku di Pasar Minggu, dia di Bogor.

Aku pun siap untuk pergi ke rumahnya mengenakan baju polo biru muda, lengkap dengan wewangian, dan tas selempang yang membalut tubuhku. Selama perjalanan, dalam gerbong kereta aku terus memikirkan cara untuk “menembak” Hayati.

Sudahlah, sepertinya aku mengatakan cintaku dengan cara biasa saja. Lagi pula aku lupa membawa benda seperti bunga, coklat ataupun perhiasan 24 karat. Aku putuskan untuk mengatakan cintaku saat tiba di stasiun Bogor nanti.

Setibanya di stasiun Bogor, aku langsung menelphone Hayati. Memintanya untuk menjemput diriku, 20 menit sudah aku menunggu. Dari kejauhan aku melihat gadis seorang melambaikan tangan ke arahku. Gadis berbaju pink dan ber-cardigan abu itu datang menghampiriku.

“Duh.. Maaf Zaky. Lama, ya?” tanya Hayati
“Lumayan.” jawabku sekenannya.
“Yasudah, yuk! Kita ke rumahku.” ajak Hayati.
“Tunggu, Ti. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” kataku pada Hayati
“Ngomong apa? Wajahmu kok terlihat tegang” kata Hayati.

Sejenak aku memang merasa tegang. Mematung dihadapannya seperti manekin di dalam lemari kaca. Aku mulai mencoba mengatur nafasku. Mulai mencoba menggerakkan tanganku dan memengang kedua bahu Hayati. Mata kita pun saling beradu, ku pandangi matanya dalam-dalam. Bibirku mulai bergerak melontarkan beberapa kata yang sejak tadi tertahan di kerongkonganku. Aku menyatakan cintaku padanya. Dan “menembak” dirinya untuk jadi pacarku. Sejenak seperti ada jeda beberapa saat. Hening. Tidak ada jawaban dari Hayati, ku lihat hanya wajahnya yang memerah.

“Jadi apa jawabanmu, Ti” tanyaku untuk memastikan.
“Aku juga suka sama kamu, tapi aku lebih nyaman kita jadi teman dan sahabatan saja.Aku hanya takut hubungan kita rusak karena pertengkatan kecil saat pacaran nanti.” jawab Hayati panjang, menjelaskan beberapa alasannya.

Aku masih merasa sedikit kecewa akan jawaban Hayati, dia belum mau menerima aku tuk jadi pacarnya. Dengan alasan-alasan yang dijelaskan Hayati mungkin dia memang lebih nyaman menganggapku sebagai sahabatnya saja. Tapi tidak denganku. Sudahlah, mungkin aku terlalu baper. Setiap kedekatanku dengannya aku mungkin aku terlalu bawa parasaan. Untuk saat ini aku coba tuk tetap menikmati statusku dengannya sebagai sahabat. Beberapa saat kemudian Hayati mengajakku ke rumahnya. Sekelibat aku melihat senyum di wajahnya, sebelum ia manarik tangan kananku.

“Hmm.. Kamu jadi kan kerumahku? Aku juga mau kenalin orang tuaku ke kamu.” ucap Hayati.

Aku hanya menjawab ajakan Hayati dengan anggukan.

Tamat. []
***
Terima kasih untuk kalian yang sudah baca sampai habis. Ini hanya fiksi, jika ada kesamaan mungkin itu hanya kebetulan. See you ~

Senin, 15 Juni 2015

Keset Baru

Kali ini gue mau ikutan nulis tentang Keset Kusut. Sebenarnya sudah lewat deadline, tapi gakpapa. Gue memang ikut-ikutan saja sih, hanya sekedar ikut meramaikan kuisnya. Ada yang sudah tahu Keset Kusut? Itu adalah judul buku terbaru dari penerbit Bukune di tulis oleh Arie Je. Bukune ini sedang mengadakan seyembara gitu. Sayembara untuk mencari orang yang bisa menerjamahkan ilustrasi dari kover buku Kuset Kusut. Buku ini luar biasa loh. Mulai dari penulisan, ilustrasi, layout, dan sampul kover semua dikerjakan oleh penulisnya sendiri. Arie Je. Gue belum kenal dengan orangnya, tapi teman-teman kenalan baru gue sudah pada kenal dengan si penulis buku ini. Dia adalah juga seorang blogger, Nama panggilannya kalau tidak salah Jejen. Seorang pria kelahiran tahun 1993 lulusan desain grafis yang handal dalam ilustrator.

Teman-teman baru gue seperti Yoga, Hawadis, Aziz, dan berapa blogger lainnya pada ikutan sayembara yang diadakan bukune ini. Hadiahnya lumayan karen, mendapatkan buku Keset Kusut yang spesial. Lihat saja di sini.

Keren banget, yah. Katanya setiap objek pada desain kovernya punya makna cerita tersendiri. Karena menarik dan mulai jatuh cinta dengan kovernya, akhirnya gue coba ikut-ikutan bikin cerita versi gue berdasarkan kover buku Keset Kusut.

Langung saja. Cekidot.

Satu
Ini adalah beberapa kisah perjalanan hidup gue. Gue Jamil, seorang mahasiswa yang baru saja lulus dari bangku perkuliahan. Kini kesibukan gue sedang mencari pekerjaan. Mondar mandir mencari pekerjaan di tengah kejamnya ibukota. Gue yang hanya seorang mahasiswa perantau hidup lama di ibukota bersama nenek dan motor maling gue. Maaf gue bukan seorang maling, dan motor gue ini bukan hasil maling. Ini adalah motor warisan kakek gue. Model motor gue ini sempat paling hitz pada masanya. Kalian tahu motor RX-King, dulu kalau di sinetron televisi, motor yang modelnya seperi ini identik dengan seorang penjahat. Motor gue memang seperti penjahat, tapi gue hanya seorang manusia yang hidup penuh dengan cinta. Cinta dari seorang nenek yang gue sayang.

Berawal dari perjalan gue bersama si jagur -motor gue. Gue mencoba mencari kerja ke kota. Ibukota memang indah, indah dengan pemandangan gedung pencakar langitnya. Di persimpangan jalan lampu merah dekat kantor yang gue tuju, gue seakan melihat Jamilah. Gadis kota yang pernah sekelas dengan gue semasa kuliah dulu. Pemampilannya sedikit berbeda, kalau waktu kuliah rambutnya panjang banget. Jamilah selalu tampil dengan gaya rambut yang dikuncir satu, mirip seperti pendekar Cina. Tapi gadis kota ini rambutnya pendek hanya sebatas bahu, dan memakai kaca mata. Namun wajah gadis itu sama cantiknya dengan Jamilah.

Semasa kuliah dulu gue sempat punya rasa dengan Jamilah. Yang gue suka dari Jamilah adalah senyumnya. Senyumnya seperti madu. Manis. Saat tersenyum pipinya terlihat merah, seperti wanita yang sedang minta jatah malam.

Lampu rambu sudah berubah menjadi hijau, gue pun melanjutkan perjalan menuju kantor tempat gue melamar kerja. Setelah sampai di sana, gue hanya menaruh CV dan surat lamaran kerja. Dan gue disuruh datang lagi besok untuk interview dengan kepala perusahaan.

Dua
Sepulangnya gue dari melamar kerja, gue langsung pergi ke kamar dan membanting badan gue ke atas kasur kapuk yang empuk. Sejenak gue menatap langit-langit kamar, dan menaruh kedua telapak tangan gue di bawah kepala. Gue pun memejamkan kedua mata yang sejak tadi terasa lelah. Dalam gelap gue terbayang wajah gadis kota yang tadi gue lihat di persimpangan kota. Seakan memastikan bahwa gadis itu adalah Jamilah, gue mencoba lebih fokus untuk membayangkan wajahnya.

“Senyumnya, sepetinya dia memang Jamilah.” Ucap batin gue.

Gara-gara bayangan itu gue jadi teringat kenangan pahit bareng Ila -nama panggilan Jamilah. Tapi entah kenapa dulu setiap dekat dia gue merasakan suatu kenyamanan. Senyaman hangatnya pelukan nenek.

“Ila, minggu depan jalan bareng yuk?”
“Ke mana?”
“Kita makan malam di restoran sea food Mas Onno, cumi bakar di sana enak loh”
“boleh”

Ila menjawab setuju dan tersenyum. Saat Ila tersenyum nafas gue terhenti dan waktu pun terasa melambat. Sejenak gue dibuat terbang oleh senyumnya, bagaikan penyihir yang terbang dengan sapu terbangnya.

Hari yang ditentukan telah tiba, gue pun pergi ke rumah Ila. Menjemput dirinya dengan bajaj yang sudah gue sewa. Dalam perjalanan menuju rumahnya, gue bertemu dengan Ila yang baru saja turun dari motor ninja bersama seorang pria gagah berhelm hitam. Dia bersama pria itu turun dan masuk ke warung pecel lele. Awalnya gue kagak percaya, dan gue coba untuk mengintipnya dari kejauhan. Ternyata benar wanita itu adalah Ila. Sontak gue merasa kaget. Mendadak perasaan gue menjadi tidak karuan. Terasa kusut, seperti benang layangan yang tidak digulung dengan rapih.

Akhirnya gue memutuskan untuk pulang ke rumah dan menghabiskan malam itu dengan bermain gitar. Menyanyikan beberapa lagu untuk menghibur diri, namun anehnya malam itu terlihat cerah. Ada bulan dan banyak bintang yang menampakan dirinya. Entah. Mungkin bulan dan bintang itu ingin menghibur gue dengan cahaya indahnya di malam hari. Tapi tetap saja mereka tidak bisa menghibur gue. Gue sudah terlanjur kusut akan perasaan ini. Rasanya ingin saja mati dan pergi meninggalkan dunia ini. Tiba-tiba nenek gue masuk ke dalam kamar.

“Cu, kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa? Nek.”
“Sudah, cu. Kamu jangan mikirin dia terus, kuliah saja yang benar, cepat lulus dan jadi anak yang pintar. Nanti kalau kamu sudah pintar, cewe akan datang dengan sendirinya. Lagi pula kalau itu jodoh kamu pasti akan bertemu lagi.”

Nenek gue menasehati panjang lebar, seakan dia tahu perasaan gue malam itu.

Tiga
Setelah peristiwa malam itu, gue memutuskan untuk tidak memikirkan Jamilah. Dari dalam rumah, gue pamit untuk tidak memikirkan Jamilah. Saat itu pun gue lebih fokus untuk belajar. Ada yang berbeda saat itu, biasanya gue kalau mau curhat, orang pertama yang dengar cerita gue adalah Jamilah. Sekarang tiap mau curhat, gue malah curhat ke Hamham marmut peliharaan gue. Sebelumnya dulu gue punya peliharaan ayam, tapi ayam gue sudah gue potong untuk gue jadikan menu makan malam.

Itulah kisah ingatan terakhir gue bersama Jamilah. Cewe yang gue taksir selama kuliah ternyata dia sudah punya pacar sejak dulu.

Setelah mengingat-ingat tentang kisah gue dan Ila gue pun terbangun dari kasur, berdiri dan pergi mendekati kandang Hamham. Gue lupa hari ini belum curhat sama Hamham tentang perjumpaan gue dengan gadis kota di persimpangan kota yang mirip dengan Jamilah itu. Usai curhat gue bersiap diri untuk tidur, dan mempersiapkan diri untuk besok melakukan interview.

Empat
Pagi pukul 09:00 gue mulai pergi ke kantor tempat kemarin gue menaruh lamaran kerja. Hari ini gue mau melakukan interview di kantor tersebut. Kantor yang gue tuju ini bergerak di bidang desain grafis, cocok dengan kemampuan gue. Gue yakin pasti bakal diterima di kantor tersebut. Setibanya di kantor gue naik dan pergi ke ruangan kepala perusahaan. Tanpa diduga di dalam ruangan itu gue bertemu dengan gadis yang dipersimpangan jalan waktu itu. Dengan yakin gue merasakan bahwa itu adalah Ila. Gue merasakan kenyamanan yang sama saat gue dekat dengan Ila.

“Ila.” sahut gue pelan untuk memastikan.
“Jamil!, kamu yang hari ini interview di sini? Apa kabar?”
“Iya. Aku sehat. Kamu kok ada di sini?”
“Aku kan sekertaris di kantor ini. Ayahku sebagai kepala perusahaan di sini.”

Tidak lama kemudian datang seorang pria yang gagah masuk ke dalam ruangan. Ia adalah ayahnya Ila. Kepala perusahaan di kantor itu. Setelah pria itu duduk, Ila mulai memperkenalkan gue dengan ayahnya sambil menyerahkan map yang sejak tadi Ila bawa. Gue pun dipersilahkan oleh Ila duduk berhadapan dengan ayahnya, dan Ila berdiri di samping kanan ayahnya.

“Ayah ini pelamar baru kita, dia yang hari ini akan di interview.”

Ayahnya lalu membuka map, dan di dalam map itu ada CV gue.

“Jamil. Kamu Jamil teman kuliahnya Ila? Tanya ayahnya Ila.
“Iya, pak.” Jawab gue sambil menganguk.
“Kamu kenapa melamar kerja di sini? Kenapa tidak melamar Ila sekalian?”

Sontak aku terkejut, kenapa ayahnya bicara seperti itu? Sekilas gue lihat wajah Ila tersipu malu. Dan pipinya memerah.

“Kamu tahu Jamil, dulu Ila sering sekali cerita ke om dan tante tentang dirimu. Dia suka sekali sama kamu. Katanya kamu itu adalah jodohnya. Ila yakin sekali. Tapi Ila tidak berani bilang ke kamu”

Panjang lebar ayahnya menjelaskan tentang curhatan-curhatan Ila. Sampai akhirnya gue baru tahu bahwa pria gagah berhelm hitam waktu itu yang masuk bareng Ila ke warung pecel lele adalah ayahnya. Setelah mendengar semua cerita ayahnya, perasaan gue menjadi kusut kembali. Tapi kusut kali ini berberda. Kusut yang membahagiakan. Ternyata Ila dan keluarganya sudah welcome banget sama gue.

Akhirnya setelah lamaran saat itu hubungan gue dengan Ila terjalin kembali. Sepertinya dalam waktu dekat ini gue mau melamar Ila. Melamar untuk menjadi istri gue. Tamat []

Keset Kusut
Cover buku Keset Kusut
***

Bagaimana? Itu adalah cerita versi gue yang terinspirasi dari cover Keset Kusut. Aneh, ya? Tapi biarlah. Kira-kira kalian punya cerita apa dari gambar kover buku Keset Kusut ini? Ayo ceritaken di kolom komentar di bawah!