Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 September 2015

Surat Untuk Nona #8

Halo Nona Nay. :)
Apa kabarmu? Semoga sehat selalu.

Iya. Sudah hampir dua Minggu aku menunggu surat balasan darimu. Setiap pulang dari aktivitas keseharianku, aku selalu mampir ke teras rumah. Melihat dan memeriksa isi kotak surat rumahku. Setiap aku tengok kotak tua itu selalu saja tidak ada surat dan kabar darimu. Hanya ada surat lain dari layanan asuransiku yang kini sudah menumpuk di meja ruang tengah.

Aku sempat khawatir dan galau. Aku kira kamu sudah lupa denganku. Sempat terpikir olehku untuk mengabarkan surat lainnya untukmu. Tapi, niat mengirimkan surat lainnya untukmu, aku batalkan. Aku hanya takut dinilai cerewet olehmu. Dan takut juga mengganggu kesibukkanmu. Kegelisahanku menanti surat balasan darimu sudah aku ceritakan kepada gadis teduhku. Ia selalu menenangkanku dan mengatakan, 'mungkin nona sedang sibuk, bersabar lah!'. Ucapnya selalu begitu.

Nona, aku baru saja mendapatkan gadis teduhku. Saking teduh kantung matanya terlihat teduh seperti bayangan pohon petai yang terbentuk dari sinar matahari. Teduh dan sejuk. Kenapa pohon petai? Iya, Nona. Gadis teduhku ini dia suka sekali petai. Bahkan dia juga suka dengan jengkol.

Nona, apakah kamu suka juga dengan petai dan jengkol?

Oh, iya. Maaf tawaranmu mengenai lelaki teduh sepertinya aku tolak. Selain karena aku sudah mendapatkan gadis teduh. Aku juga menebak bahwa lelaki teduh itu Paber, kan? Tidak, Nona. Terima kasih. Lelaki teduh itu untukmu saja. Aku sudah cukup dan bersyukur dengan gadis teduhku ini. Dia datang dari masa depan. Dia gadis teduhku, Non. Waktunya lebih cepat satu Minggu dari waktuku. Itu alamat yang dia tulis di gubuk mayanya, Non. Kamu pasti kenal dengan gadis teduhku ini, Non.

Nona, ternyata liburanmu cukup menyibukkanmu, ya. Aku membayangkan kamu yang kerepotan dengan membagi waktumu untuk kuliah semester pendekmu, dan membuat waktu untuk mengurus keluarga barumu. Btw, bagaimana kabar kerluargamu? Ran dan Run itu? Semoga mereka akur, ya. Dan tidak rebutan makan biskuit Whiskas.

Untuk liburanku, aku lebih banyak berleha lehanya, Non. Menghabiskan waktuku dengan tumbukan PR di rumahku. Tumbukan buku di rumah yang belum sempat aku baca habis. Serta jejeran dan jajaran stok film di netbook. Aku belum sempat melahapnya semua. Itulah pr pr ku. Liburanku habis dengan mereka saja. Benda benda sialan itu.

Nona, ada sesuatu hal yang mengganjal dalam diriku. Sudah lama kita tidak bertemu. Bermain di alun-alun bersama seperti dulu. Kapan kita bisa bermain lagi di alun-alun kota, Non?


Salam meong

Seorang Hamba


Surat Untuk Nona
Surat Untuk Nona #8

Jumat, 14 Agustus 2015

Surat Untuk Nona #7

Untuk nona yang songong.

Hai nona, aku sudah menerima suratmu. Lagi, kau membuatku tersenyum saat menerima suratmu. Aku sempat tertawa kecil saat kau menyamakan diriku seperti makhluk laut. Memangnya, apakah wajahku ini terlihat ketus dan kecut, seperti Squidward? Heheheh. Tenang saja aku tidak marah. Semoga itu panggilan yang baik.

Maaf, non, untuk surat kali ini aku menambahkan title songong untukmu dipembuka surat. Aku hanya binggung saja untuk menambahkan title untukmu. Semoga surat ini tidak ditafsirkan sebagai surat balas dendam. Sudahlah. Lupakan nama dan title itu. Apalah arti sebuah nama.

Hmm. Kabarku baik. Alhamdulillah. Tapi, beberapa pekan ini aku seperti jenuh. Jenuh dengan tulis menulis. Entah apa yang membebani dan memberatkan kepalaku. Seakan aku tidak bisa menggunakan kepalaku. Sepertinya aku butuh vitamin. Bahan bacaan, misalnya.

Nona, bagaimana kabar kuliah semester pendekmu? Semoga sukses dan lancar, ya.

Oh, iya. Di surat balasanmu begitu banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang mungkin juga aku pun tidak bisa menjawabnya. Apakah aku harus menjawab semua pertanyaanmu? Semoga tidak. Dan ada beberapa pertanyaan itu yang menurutku lucu. Iya lucu, seperti kamu dan keluargamu. Hahahaah.

Yang jelas aku selalu percaya bahwa hidupku ini hanya untuk beribadah. Karena keyakinanku itu, kepalaku berkata, bahwa aku setidaknya harus bisa bermanfaat untuk diri sendiri, dan orang lain. Sebab dengan kebermanfaatanku itu, mungkin bisa menjadi nilai ibadah untukku, orang lain, dan Sang Pembalas. Walau kadang aku malu. Kadang aku masih melakukan dosa dan khilaf.

Nona, aku masih punya PR besar dari guruku. Beliau bilang “kejarlah matahari, sebab bayangan pasti akan mengikutimu. Tidak sebaliknya. Jika kau mengejar bayangan kau akan jauh dari matahari” Entah apa maksud guruku. Yang jelas mengejar matahari juga mungkin tidak kalah lelahnya dengan mengejar bayangan. Apalagi kalau tidak ada yang menemani. Mungkin terasa sulit.

Tapi, kemarin aku menemukan sedikit jawaban. Saat aku pulang, aku satu angkot dengan seorang wanita. Aku lihat wajah dan matanya, dia terlihat teduh. Sepertinya usiaku dengannya tidak tepaut jauh. Saat ku lihat dia, awalnya aku kira wanita itu gila. Dia terus saja menggerakkan bibirnya. Aku pikir dia butuh kecupan di bibir. Bibirnya mangap-mangap, komat-kamit seperti ikan cupang.

Aku mulai menurunkan pandanganku menuju bagian dadanya. Sudahlah lewatkan bagian dada. Aku menurunkan kembali pandanganku ke bagian tangan dan jarinya. Ibu jarinya berpindah-pindah gerak menempati gerat-gerat yang ada di jari-jari lainnya. Sepertinya aku tidak asing dengan gerakan jari itu. Iya, aku tahu gerakan ibu jari dan jari-jarinya itu. Akhirnya aku tahu jawaban dari gerak bibirnya. Ternyata dia mangap-mangap bukan minta kecupan. Tapi, ternyata sepanjang perjalanan dia bertasbih dan bertahmid.

Diriku langsung malu saat melihat itu. Aku seakan ditegur. Dialah wanita teduh yang mungkin bisa menemaniku untuk mengejar matahari. Aku harus mencari wanita seperti dia. Wanita teduh. Entah kapan aku bisa betemu dengannya lagi. Atau menemukan yang sejenis dengannya.

Nona, apakah kau punya kenalan wanita teduh seperti itu? Hahahaha. Tidak perlu dijawab. Mungkin, ini pertayaan ngacoku. 

Hmm. Nona, mungkin sekian dulu suratku kali ini. Aku selalu bingung untuk membuat pembuka dan penutup surat. Oh, iya, non. Salam untuk keluargamu. Semoga kamu dan keluarga sehat selalu.

See you ~


Salam hangat


Seorang Hamba

Jumat, 31 Juli 2015

Surat Lagi Untuk Nona #6


Teruntuk Nona.

Hai, Nona. Apa kabarmu? Semoga kamu sehat dan baik-baik selalu di sana. Maafkan aku yang sudah lama tidak memberi kabar kepadamu. Terakhir kali aku mengirim surat untukmu akhir bulan lalu. Dan sekarang sudah akhir bulan lagi. Sudah genap satu bulan aku tidak menyuratimu. Kamu tidak marah, kan? Semoga tidak.

Nona, kamu tahu, lebaran tahun ini aku pulang. Pulang ke kampung halaman. Melepas rindu bertemu dengan orangtuaku. Ada yang berubah di sana. Lahan tanah yang digunakan kerbau untuk membajak serta bangunan reyot milik pak petani, kini menghilang. Tempat itu sudah berganti dengan bangunan yang lebih kokoh.

Selain itu, di rumah orangtuaku juga ada yang berubah. Sekarang sudah ada wajan besar yang menantap kokoh di belakang rumah. Benda itu adalah pembelian kolektif dari orangtuaku bersama tetangga-tetangganya. Aku cukup senang dengan hadirnya wajan besar yang ada di belakang rumah. Sekarang aku bisa memanjakan mataku lagi untuk menatap kotak berwana abu di rumah.

Meskipun aku senang dengan benda serupa wajan itu. Tapi, aku pun membecinya, Non. Karena benda itu, aku jadi tidak bisa quality time bersama orangtuaku. Tiga hari aku belibur mengunjungi orangtuaku. Namun, hari-hariku dihabiskan bersama TV di ruang tengah. Mulai dari siang hari sampai menjelang tengah malam.

Seharusnya tiga hari itu aku gunakan untuk membantu orangtuaku yang sibuk dengan pekerjaan desanya. Setelah tiga hari itu, aku kembali ke Jakarta dengan membawa rasa sesal pada diriku sendiri. Sudahlah, itu sudah berlalu.

Begitulah, Non. Itu tadi cerita lebaran bodohku. Semoga kamu tidak melakukan kebodohan juga di lebaran tahun ini, ya.

Oh iya, Non. Tahun ini adikku mendaftarkan diri untuk masuk kuliah. Ia lolos pada jalur SBMPTN. Dan minggu ini ia harus mulai melakukan pemberkasan serta daftar ulang. Aku harus membantu adikku ini, menemani dirinya untuk daftar ulang. Sebab, orangtuaku tidak bisa menemani adikku untuk daftar ulang.

Tapi, disaat yang bersamaan, minggu ini juga aku ada undangan dari teman-temanku untuk jalan-jalan ke Bandung. Aku sempat galau. Mana yang harus aku pilih. Membantu adikku daftar ulang atau ikut jalan-jalan ke Bandung. Tepat sore ini pukul 17:00, rombongan jalan-jalan ke Bandung sudah berangkat. Dan aku tidak jadi ikut. Dalam hati sebenarnya aku ingin sekali pergi jalan bersama teman-teman ke Bandung. Namun, aku memilih untuk membantu adikku menemani dirinya daftar ulang. Andai saja aku bisa seperti Naruto. Aku akan membuat diriku yang satunya lagi. Jadi aku bisa menepati dua janji secara bersamaan. Sepertinya itu terlihat keren, ya.

Mungkin itu saja kabar update-ku minggu ini, Non. Memang tidak ada yang menarik. Tapi, semoga kamu tidak bosan tuk menerima kabar-kabarku di surat berikutnya. Kalau bosan bilang saja, ya.

See you ~

Salam hangat


Seorang Hamba

Minggu, 31 Mei 2015

Untukmu, Kekasihku

Teruntuk Skripsiku,

Halo skripsiku, apa kabarmu? Hahaha... ingin aku tertawa geli menanyakan kabar skripsiku sendiri. Seharusnya aku sudah tahu kabar dirimu, skripsiku. Biar lebih memudahkanku untuk mengetik namamu, aku panggil kamu Beb saja yah, skripsiku. Aku mengganti namamu agar diriku bisa lebih suka padamu dan terdengar lebih romantis, Beb.

Beb, kamu tahu ini minggu apa? Minggu ini adalah minggu aku telah menulis tiga surat di blogku. Surat pertama surat untuk WeBe, kedua untuk nona, dan yang ketiga adalah suratku untuk mu, Beb. Aku tidak ada maksud apapun menceritakan tentang menulis tiga surat tersebut. Aku hanya sedang mempromosikan postingan blogku kepada pembaca setiaku. Semoga kamu bisa mengerti, Beb. Sudah pasti bukan, aku menulis di blog untuk dibaca oleh pembaca. Bukan untuk dibaca oleh diriku sendiri. Iya aku memang sedang mencari komenters yang mau memberikan komentar atas tulisan-tulisanku. Dari komentar mereka aku bisa belajar. Belajar untuk memperbaiki tulisanku, belajar untuk terus konsisten menulis, dan belajar untuk membangun mentalku.

Kamu tahukan, beb. Aku sedang tersesat di dunia blogging. Meskipun tersesat, aku menikmatinya disetiap gerakku untuk mencari jalan keluar. Jalan keluar untuk segera menyelesaikanmu, beb. Memang aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan blogku, tapi aku rasa Insya Allah ini akan memberikan manfaat untuk diriku.

Terkadang memang aku mendapatkan pertanyaan sana sini dari teman-temanku. Pertanyaan yang terkadang selalu menjurus kepadamu. Seperti, kapan seminar? Kapan sidang? Kapan wisuda? Kapan lulus? Kapan kerja? Kapan nikah? Dan masih banyak kapan lainnya. Kamu tahu semua pertanyaan itu aku jawab dengan senyuman sambil berkata, Insya Allah secepatnya.

Beb, bukan maksudku melupakanmu. Aku masih ingat kamu kok. Hanya saja aku sedang mencari mood yang tepat. Mungkin menurutmu aku ini malas. Entahlah. Tapi kamu tahu sendiri bukan, aku masuk prodi ini tidak sesuai dengan passion-ku. Namun tidak bisa aku pungkiri, prodi ini benar-benar prodi yang luar biasa. Sudah empat tahun aku belajar di dalam prodi ini, aku sudah mulai suka dengan prodi ini. Saat aku menceritakan prodi ini dan menjelaskan prospek kerjanya. Banyak orang yang terhidayahkan akan ceritaku itu. Iya aku bodoh, menurutmu. Hanya saja, lagi-lagi ini bukan passion-ku, aku tidak terlalu tertarik untuk menjadi pengajar. Memang ada beberapa temanku yang berhasil menyelesaikanmu, meski ini bukan jalannya. Tidak denganku, mungkin aku memang belum memiliki mental pejuang. Aku lemah, menurutmu. Tidak juga.

Sudahlah, beb. Kamu tidak perlu marah padaku. Meski kamu iming-imingkan tiket wisuda, aku tetap saja masih tersesat di dunia blogging. Aku bukannya menolak tiket wisudamu, beb. Tentu dengan senang hati aku menerimanya. Karena aku sudah lelah dengan semester ini. Semester di mana aku telah ditinggal wisuda oleh teman-temanku. Tidak hanya teman kelasku, teman lintas prodi dan fakultas juga sudah pergi menuju garis finish. Wisuda.

Beb, sepertinya ini sudah cukup panjang. Aku pamit dulu yah. Minggu depan mau kah kamu pergi bersamaku, beb. Kita pergi ke perpustakaan. Hanya ada aku, kamu dan buku literatur. Aku lanjutkan untuk menyelesaikan dirimu. Sampai jumpa, beb. See.. you...

Salam semangat,



Pelajar Biasa. []

Surat Untuk Nona #5

Teruntuk Nona,

Nona, apa kabar? Sudah lama ya aku tidak menulis surat untukmu. Aku harap kamu tidak marah padaku. Bukanya aku melupakanmu atau sok sibuk, tapi memang seperti itu keadaanya. Nona kamu tahukan akhir-akhir ini aku lagi asyik dengan dunia blog. Melalui blog ini aku ikut gabung komunitas-komunitas blogger. Dan kamu tahu, dari komunitas tersebut aku bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru. Mereka adalah manusia-manusia hebat dan keren. Kebanyakan dari mereka adalah orang yang sudah pandai berbisnis dengan blognya. Ada juga dari mereka yang seorang penulis dan calon penulis. Bahkan ada juga yang sudah menjadi editor di beberapa majalah dan buku ternama.

Kamu tahu di sekolahku kini sudah ada komunitas blogger. Aku jadi ingat saat pertama kumpul dengan salah satu anggota komunitas itu. Ia adalah seorang wanita yang sexy. Maaf nona, aku harap kamu tidak marah dan cemburu. Dia memang sexy, sebab dia pandai sekali merangkai kata. Dia telihat cerdas dengan tulisan-tulisanya. Aku ingin belajar darinya. Quote pertama yang aku ingat darinya adalah “kalau mau jadi blogger yang penting konsisten menulis saja, dan perhatikan juga EYD. EYD itu penting”. Kurang lebih seperti itu, aku rada-rada lupa, nona.

Wanita itu adalah kenalan baruku di dunia blogging. Aku merasa akrab dengannya, meski baru beberapa kali ngeblog bareng di sekolah. Dan yang lucunya tiap kali ngeblog bareng dia pasti kita diem-diem saja. Tahu-tahu udahan saja dan berpamitan pulang. Mungkin memang tabiat kita adalah seorang pendiam. Dan mungkin juga karena aku dan dia memang tidak cocok. Aku cocoknya hanya dengan kamu, nonaku. Tapi ini berbeda saat di grup Whatsapp. Di grup yang paling cukup ramai adalah aku dan dia. Aku yang selalu bawel membicarakan dirinya di gup, selalu buka-bukaan tentang dirinya. Tidak banyak sih yang aku tahu tentangnya, itu karena aku dan dia satu komunitas blogger juga di komunitas lainnya. Sampai akhirnya hari ini aku terlalu bocor, dan mengumbar urusan pribadinya.

Niatnya tadi hanya bercanda. Aku tidak tahu, apakah dia marah? Atau tidak? Yang jelas setelah perbuatanku, aku menyesal dan aku rasa itu benar-benar kelewatan. Aku malu. Nona, aku tahu, aku harus minta maaf. Aku sudah lakukan itu, awalnya aku coba telepon dia sekali, tapi tidak diangkat. Sudahlah.. Kamu tahukan, nona. Aku ini seorang yang paling keras kepala, menurutmu. Aku orang yang paling males untuk memohon maaf dan berterima kasih. Bahkan kepada nona, aku pun enggan mengatakan maaf dan terima kasih. Bukannya aku egois, tapi entah kenapa bibirku enggan mengucapkan itu. Tapi berbeda dengan hatiku, yang seakan menjerit dan mengemis untuk memohon maaf.

Aku jadi ingat saat pertama kali aku mengemis maaf kepada cinta moyetku. Aku telepon cinta monyetku, dan dalam percakapan aku menangis di kamar. Meminta maaf dan meminta dirinya untuk balikan lagi denganku. Saat itu aku sambil menangis dan aku kegep oleh keluargaku. Sudahlah aku malu mengingat-ingat itu. Nona kamu tahu, aku memang seorang yang bocor. Mungkin ini alasan Tuhan membuat diriku seperi “ini”, harusnya aku bisa mengambil hikmahnya. Aku “begini”, agar aku tidak bocor sana sini.

Aku kesal dengan diriku sendiri. Nona, aku yang baru saja mendapatkan kenalan baru kini sudah dicap hitam oleh dirinya. Mungkin itu memang perasaanku saja, tapi aku rasa tidak. Aku baru saja merusak hubunganku dan jalanku untuk belajar menjadi penulis. Padahal ini adalah kesempatanku untuk belajar darinya. Seharusnya aku menghormati guruku, tapi aku sudah kurang ajar dengan guruku.

Kini aku tidak sanggup membanyangkan jika bertemu dengan dirinya. Pasti aku akan kena marah abis-abisan darinya. Nona tolong aku, ajari aku untuk bisa merangkaikan kata-kata maaf untuk dirinya. Bagaimana aku harus minta maaf kepada guruku ini, nona? Aku juga ingin memohon maaf kepadamu, nona. Di suratku kali ini aku lebih banyak menceritakan wanita lain, bukan maksudku menduakanmu. Aku harap kamu paham dan mengerti aku. Minggu depan apa kita bisa bertemu? Aku ingin bercerita lebih panjang kepadamu, nona.

Salam maaf


Pelajar Biasa. []

Sabtu, 30 Mei 2015

Surat Tak Sampai

Teruntuk Kamu

Tepat tanggal 25 Mei adalah hari kelahiranmu. Aku yang baru kenal denganmu langsung diundang ke pesta ulang tahunmu. Sebenarnya aku malu datang ke pestamu, sebab aku tidak membawa kado untukmu. Padahal kamu sudah mengingatkan dalam email-ku untuk membawa kado. Aku juga malu untuk bertemu dengan warga-wargamu yang kece. Saat itu aku yang hadir dipesta ulang tahunmu hanya menjadi seorang pengagum yang ikut memeriahkan hari ulang tahunmu. Iya aku kagum denganmu. Kamu yang begitu hangat dan sederhana saat bercengkrama dengan warga-wargamu, membuat dirimu terlihat sempurna dimataku. Aku iri denganmu, ternyata kamu cukup terkenal. Kamu dikelilingi oleh warga-warga yang hebat. Aku mulai penasaran dengan latar belakang dirimu. Siapakah peletak batu pondasi pertama dirimu?

Dipesta ulang tahunmu aku disambut hangat oleh dirimu dan teman-temanmu. Padahal aku adalah warga barumu. Tak lama setelah aku masuk ke ruang pestamu dan berkenalan dengan beberapa wargamu (Nona Atha, Nona Bella, dan Tuan Rudi) aku langsung disuguhkan breakfast. Kwetiau dan segelas es campur. Aku dibuat kenyang oleh jamuanmu. Kamu memang pandai memanjakan wargamu. Sepertinya aku tidak salah untuk bergabung menjadi wargamu. Bersamamu aku kenal dengan wargamu yang hebat-hebat. Jika aku diizinkan suatu saat nanti untuk lebih lama mengenal dirimu, pasti bersamamu aku akan menemukan arti kebersamaan, berbagi, dan arti semangat untuk berkarya. Setidaknya itu yang dikatakan oleh Uncle Lozz dalam sebuah tulisannya di sini.

Suasana Syukuran 4 Tahun WB
Suasana Syukuran 4 Tahun WB

Ternyata pendirimu adalah seorang yang bijak ya. Sepertinya aku benar-benar mulai suka denganmu. Kamu tahu, kamu itu memang sebuah wadah. Aku setuju dengan Uncle Lozz, kamu itu adalah wadah para blogger untuk saling berbagi, saling mengisi, dan wadah untuk berkarya, serta tempat yang nyaman untuk berteduh. Kamu ingat saat dipesta ulang tahunmu minggu lalu. Kamu dan wargamu mengadakan lomba membuat surat cinta untuk dirimu. Awalnya aku ingin sekali ikut serta dalam lombamu, tapi ternyata membuat surat cinta itu sulit ya. Aku takut kalo surat cintaku tidak seromantis kisah Habibie & Ainun.

Aku ingin sedikit bercerita kepadamu tentang proses menulis surat ini. Sepulang dari pestamu aku membuka netbook-ku mencoba menulis beberapa kata, namun aku tidak bisa menemukan diksi yang tepat, dan memang karena aku juga yang belum pandai menulis. Aku malu. Sampai akhirnya aku lanjutkan menulis di hari esok. Keesokan harinya aku dan teman kampusku berkumpul untuk ngeblog bareng di teater terbuka. Kamu tahu apa yang aku lakukan? Iya, aku sibuk sendiri menulis surat cintaku, sementara teman-temanku asyik berbicang-bincang. Tidak denganku. Tapi saat itu suratku belum kunjung selesai.

Sebenarnya sampai pada kalimat ini aku ingin menyudahi suratku untukmu. Karena mengingat deadline yang sudah dekat, tapi aku tidak bisa. Aku ingin terus jari-jariku manari merangkai kata untukmu. Dan sampai akhirnya sekarang tanggal 30 Mei, aku sudah telat satu hari untuk ikut lomba surat cintamu. Aku salah telah menahan surat cinta ini. Tapi aku putuskan untuk tetap mengirim surat ini kepadamu. Meskipun sudah pasti aku tidak terpilih.

WeBe, aku rasa sudah cukup surat ini. Setelah cukup panjang aku lupa mengucapkan sesuatu untukmu. Selamat ulang tahun cintaku, WeBe. Aku suka kamu berserta warga-wargamu yang cantik dan tampan. Semoga di usiamu yang genap 4 tahun ini, kamu tetap menjadi wadah yang setia untuk kami para blogger, tempat memberikan inspirasi, dan tempat untuk berbagi. Oh iya, sebelumnya aku ada oleh-oleh untukmu. Ini kelakuan kami warga-wargamu selepas dari pesta ulang tahunmu. Disimpan baik-baik ya, kalau bisa dikasih frame biar cantik dan manis. Sudah ya.. bye.. byee...


Selamat Ulang Tahun WeBe
Selamat Ulang Tahun WeBe


Mending foto-foto, bete nunggu kereta tak kunjung datang
Mending foto-foto, bete nunggu kereta tak kunjung datang

Surat Untuk Warung Blogger
Surat Untuk Warung Blogger

Selasa, 28 April 2015

Surat Untuk Nona #4

Surat Untuk Nona #4
Surat Untuk Nona #4

Teruntuk Nona,

Nona, suratmu sudah aku terima. Terima kasih sudah mendukungku. Mungkin benar aku harus lebih tegar menghadapi masalahku. Toh memang benar masalah yang aku selesaikan akan bermuara untuk diriku sendiri, dan juga akan berimbas pada orang-orang di sekitarku, seperti orangtuaku. Aku mungkin memang lemah, belum terbiasa untuk membinasakan rintanganku. Baru dikritik sedikit oleh penguji tentang skripsiku, aku sudah langsung kelemar-kelemer. Seakan tidak bergairah untuk hidup.

Sejak sidang itu, skripsiku dan masalah lainnya tidak aku sentuh lagi. Sedikitpun tidak. Aku hanya bisa meratapi hidup & mandi di bawah siraman shower kamar mandiku. Sudah banyak yang aku abaikan. Diriku sendiri, blogku, bukuku, lemari bajuku, pelajaran di asaramaku, dll. Rasanya aku benar-benar ingin bebas dari itu semua. Tapi aku sadar, bahwa berlari tidak akan menyelesaikan masalahku. Ia hanya akan menunda masalahku untuk diselesaikan dan akan datang kembali untuk menagih.

Benar nona, aku harus bisa menjadi seorang yang tegar. Bukan dijalan yang gampang tapi di jalan yang penuh desakan, tantangan, dan kesukaran. Terkadang aku iri melihat teman-temanku yang sudah rampung menyelesaikan penelitiannya. Tapi aku harus berusaha sanggup berdiri tegak di tengah badai, dan belajar mengasihi mereka yang berhasil

Nona, kau tahu dibalik pria yang kuat ada wanita yang hebat. Seperti Presiden Amerika Barrack Obama, dalam pidato pengangkatan dirinya sebagai Presiden, menyebutkan sosok yang membuatnya menjadi pria seperti sekarang ini adalah istrinya Michele. Dan di Indonesia pun demikian, Presiden Seokarno dengan Ibu Fatmawati-nya, Presiden SBY dengan Ibu Ani Yudhoyono-nya. Wanita-wanita itu memiliki peran penting dalam kesuksesan suami mereka.

Aku berterima kasih sekali untuk nona yang sudah menyemangatiku kembali. Dan terima kasih juga sudah mengingatkanku untuk berpegang teguh kepada Tuhan sebagai sumber pengusir kesedihan dan kepelikanku. Mungkin ketidakberuntunganku sebab aku telah mengabaikan Tuhan. Dan lupa untuk mengembalikan semua usahaku kepada Tuhan. Untuk kesekian kali aku harus tegar, bangkit, dan mencoba kembali menyusun jejak-jejak kesuksesanku.

Nona, aku janji akan segera datang. Sekembalinya aku, kita nikmati lagi senja yang sama. Aku akan berusaha menyelesaikan rintangan ini lebih dari kemampuanku. Nona, kamu jangan lupa bantu aku dalam sunyi di doamu. Karena doa itu spirit yang nyata untukku.

Nona, akhir kata aku mau bilang. Aku lalala sama nona :p


Salam Kasih




Pelajar Biasa. []

Kamis, 09 April 2015

Surat Untuk Nona #3

Surat Untuk Nona #3
Surat Untuk Nona #3

Teruntuk nona yang cantik.

Nona apa kabarmu? Bagaimana surat ku minggu lalu, sudah kah kamu terima dan membacanya.? Oh iya nona aku sudah menerima balasan surat pertama mu. Aku senang mendengar kabar mu, semoga kamu nyaman dengan pekerjaan yang baru kamu dapatkan pasca wisuda studi mu. Dan semoga kamu dilancarkan juga untuk dapat melanjutkan studi s2.Nona maaf minggu ini aku telat menyurati mu. Iya, padahal aku tidak sibuk-sibuk sekali. Hanya saja sebab aku terlalu asik dengan duduk dibelakang meja sambil memainkan leptop ku. Hingga tersadar waktu sudah berlalu satu minggu, bahkan lebih. Tapi semoga kamu tidak marah yah, karena telatnya surat yang aku kirim.

Nona kamu tahu tidak, kemarin pagi hari aku lari pagi di sekitar perumahan. Ternyata perumahan di daerah sini mungkin bisa dikatakan sedikit berbeda. Iya karena aku sering dengar, katanya warga perumahan ini kebanyakan sibuk dengan urusan pribadinya di rumah, dan tidak pernah keluar rumah. Dan bahkan katanya warga perumahan itu tidak saling kenal dengan tetangganya. Tapi ini berbeda dengan apa yang aku dapatkan di sini. Tepat sekitar pukul setengah enam, aku mencoba lari pagi di sekitar perumahan baru ku. Ternyata tidak sedikit warganya yang lari pagi dan memanfaatkan kegiatan ini sebagai media untuk bisa saling kenal antar tertangga. Oh iya nona maaf ya aku tidak mengabarkan kepindahan ku di perumahan yang baru ini, kini aku tidak lagi tinggal di bagian timur. Semenjak aku dapat tugas di selatan, aku pun pindah ke bagian selatan. Nona jangan marah ya.. bukankan dengan pindahnya ke selatan ini akan membuat aku bisa dekat dengan Nona. Kamu masih tinggal dibagian barat kan?. Iya sih memang masih cukup jauh antara selatan dan barat.

Lanjut ke cerita lari pagi ku. Saat itu aku seperti bisa merasakan anugerah kebahagiaan. Aku lihat ada sepasang suami istri yang lari pagi bersama anak balitanya, sepertinya mereka adalah pasangan baru. Aku lihat mereka, ayah dan ibu muda tersebut memancarkan senyum indah mereka kepada anaknya. Selain itu aku juga lihat sepasang kekek dan nenek yang berjalan ikut dalam kegiatan lari pagi ini, mereka dengan santai berjalan seolah sedang menikmati waktu dan mengenang masa mudanya. Manis sekali pasangan tua itu bercengkrama dengan hangatnya. Setelah cukup jauh aku berlari santai, aku pun melihat muda mudi yang sedang tertawa dengan hangatnya. Mereka sepertinya sedang asyik membicarakan sesuatu, iya mereka asyik berbicara tentang benda-benda kesayangan mereka yang baru saja mereka dapatkan. Aku rasa itu bukan suatu hal yang menunjukan rasa pamer. Tapi seperti lebih ingin mengabarkan kebahagiaan dirinya kepada temannya. Ternyata lari pagi kali ini, seolah aku diberikan pesan untuk bisa empati dan simpati bahwa warga di sini sedang berbahagia. Ada pasangan muda yang sedang bahagia dengan keluarga barunya. Ada pasangan berumur yang sedang bahagia menikmati waktu bersama dengan pasangannya. Dan ada juga muda-mudi yang bertukar bahagia akan asesorisnya.

Nona ku yang cantik. Selanjutnya kamu tahu tidak selepas aku lari pagi dan duduk dibalkon. Apa yang aku pikirkan saat melihat kebahagiaan itu.?
Apakah bahagia itu datang dari sesuatu yang ada diluar diri kita.?

Seandainya pasangan muda tadi lari pagi tanpa anaknya, lalu pasangan tua tadi lari sendiri-sendiri, dan muda-mudi tadi lari pagi dengan tanpa asesorisnya. Apakah mereka masih bisa membuat aku merasakan bahwa mereka sedang bahagia. Kurasa sedikit dari mereka yang bisa. Kalau bahagia itu digambarkan dengan memiliki meterial, pasti banyak yang setuju bahwa itu bahagia yang sementara. Material ini bukan hanya harta benda, bisa juga berupa pangkat, dan bahkan anak atau pasangan kita itu bisa dikatakan material. Nona, coba kita bikin skenario. Jika ada fulan dengan kondisi punya harta, posisi, dan keluarga, dan fulan berkata ia lagi bahagia. Berarti kalau harta, posisi, dan keluarga fulan itu tidak ada, berarti apa fulan tidak bahagia.?

Nona, aku pun berhenti sejenak, yang aku dapati hanya sebuah kata bahagia. Bahwa bahagia itu adalah suatu yang tidak terikat. Bahagia adalah bahagia. Aku masih belum bisa menggambarkan itu, karena mungkin bahagia itu adalah suatu emosi. Dan bukankah emosi itu sesuatu yang abstrak. Entahlah...

Aduh... maaf nih nona, surat ku kali ini mungkin adalah surat yang bikin pusing. Sampai bertemu di surat ku yang berikutnya. Oh iya nona, pinta ku satu nona, semoga kamu nyaman dengan pekerjaan baru mu. Dan kamu bisa menikmati tugas mu dengan senyum mu. Bukankan senyum itu salah satu yang melambangkan bahagia. Jadi semoga kamu bahagia.

Tapi nona aku ingin tanya, nona merasa bahagia kalau di apain sih..?


Salam rindu



Pelajar biasa []

Senin, 30 Maret 2015

Surat Untuk Nona #2

Surat Untuk Nona #2
Surat Untuk Nona #2

Dear : Nona

Hallo nona, apa kabar mu Minggu ini? Aku berharap semoga kamu tetap sehat. Tidak seperti aku yang baru sembuh dari sakit. Iya di Minggu-Minggu ini aku jatuh sakit. Tidak terlalu parah sih, hanya sakit perut. Ini juga mungkin karena aku makan atau jajan sembarangan.

Semoga kamu tidak tertawa ya.. aku ini memang lemah. Jajan sembarangan aja langsung sakit. Tapi aku masih tetap bersyukur. Kerena sakit yang pernah datang  kepada ku bukanlah sakit yang serius. Cukup dengan obat warung atau pergi ke dokter umum, aku langsung sembuh. Semoga aku dan nona tetap dan selalu diberikan nikmat kesehatan dari Tuhan. Amin..

Nona pernah berwisata ke Rumah Sakit. Iya ke Rumah Sakit. Sesekali cobalah berwisata ke tempat antimainstream, seperti Rumah Sakit. Memang mungkin tidak akan menyenangkan, tapi setidaknya kita akan mendapatkan pelajaran yang amat berharga. Mensyukuri sebuah nikmat kesehatan.

Nona kamu tahu kan. Di rumah sakit kita bisa menemukan orang-orang yang ingin sekali bisa menikmati hidup ini dengan keadaan yang sehat. Disana ada orang yang ingin sekali bisa bangkit dari ranjang dan kursi rodanya, lalu berlari dan berjalan dengan lepas. Ada juga yang ingin bernafas dengan bebas tanpa harus ada tabung oksigen di sisinya.

Dalam ajaran agama kita ada sebuah warning tentang nikmat sehat. Nona tentu sudah tahu. Ya bahwa nikmat kesehatan itu terkadang dan bisa membuat kita tertipu. Saat kita sehat, tidak sedikit kita mengingkari nikmat sehat ini. Ketika sedang sehat kita mungkin malah lebih banyak melakukan pekerjaan yang tidak bermanfaat. Ketika sedang sehat kita mungkin malah bermalas-malasan untuk pergi bersekolah.

Oh iya nona, aku jadi ingat saat kamu sakit. Lalu kamu meminta minyak angin pada ku. Untung saat itu aku bawa, setidaknya aku bisa berguna disaat seperti itu. Coba waktu itu aku diizinkan tuk ikut mengoleskan minyak angin diperut mu. Eh... Ah sudahlah...

Kalo boleh jujur saat itu aku tertawa dalam hati. Heheheeh.... maaf ya. Entah kenapa aku bisa tertawa seperti itu, mungkin karena ekspresi wajah mu yang menurut ku itu menggemaskan. Tapi aku salut saat kondisimu kurang sehat, kamu masih bisa pergi bersekolah.

Sudah dulu ya nona untuk surat minggu ini. Semoga dengan surat ini bisa jadi pengingat nona untuk bisa bersyukur atas nikmat kesehatan. Dan juga mengingatkan nona untuk tetap menjaga kesehatan nona.

Nona jangan lupa sarapan ya.. nanti jatuh sakit lagi. hehehhe

Salam Hangat



Pelajar Biasa. []

Selasa, 24 Maret 2015

Surat Untuk Nona #1

Surat Untuk Nona #1
Surat Untuk Nona #1
Dear : Nona

Hallo nona, apa kabar? Semoga kau baik-baik saja, dan sehat selalu. Aku dengar besok kamu akan wisuda studi S1-mu. Aku hanya berharap semoga acara wisudanya berjalan dengan lancar. Dan setelah kamu diwisuda semoga Tuhan memberikan jalan kemudahan untuk kamu dalam berkarir. Maaf jika aku nanti tidak bisa menghadiri acara wisuda kamu.

Bicara tentang wisuda aku jadi ingat semasa waktu kita SMA bersama. Dipanggung wisuda SMA kita dan teman sekelas nampak sangat berbahagia. Semua beban semasa sekolah terasa sudah lepas dari punggung kita. Kita jadi serasa bebas dari tugas sekolah, mata pelajaran yang terkadang membebani dan menyita waktu saat itu sudah sirnah dari pikiran.

Tapi, yang ingin aku bahas dalam surat ini adalah permohonan maaf ku. Kamu ingat hari ini adalah genap 3,5 tahun kita tidak bertemu, dan tidak memberi kabar. Maafkan aku yang tidak mengabari mu. Saat aku ingin memberikan kabar, aku selalu teringat akan janji kita untuk fokus dalam belajar. Di hari terakhir kita bertemu saat itu kita berpisah untuk memilih studi S1 masing-masing dan berjanji untuk belajar lebih fokus dan kembali ketika telah berhasil. Sebab itu, aku tidak cukup berani mengangkat tangan ini untuk sekedar menggoreskan tinta di kertas yang bersih ini. 

Namun hati ini sudah tidak tertahan lagi ingin rasanya aku bertemu dengan mu. Melepas rasa rinduku sejak 3,5 tahun lalu. Semoga dengan surat ini kamu mau menerima kabarku.  Dan berharap juga semoga dengan surat ini rasa rinduku dapat sedikit bekurang.

Nona kamu jangan tertawa ya membaca surat ku ini. Aku memang belum mahir dalam tulis menulis surat. Tapi kabar baiknya, mulai hari ini, aku akan coba mengabarimu tiap minggu. Maaf jika surat ini mengingkari janji kita. Tapi tidak ada salahnya kan hanya untuk sekedar menyapa mu nona. Dan aku ingin bercerita hal-hal yang aku alami, dan hal yang aku lakukan.

Nona mungkin cukup ini dulu surat pembuka dari ku. Nanti pasti aku akan kirimkan surat dan cerita selanjutnya. Semoga nona bisa nemerimanya, dan tidak bosan untuk membacanya. Sampai jumpa di surat yang lain.

Salam Rindu



Pelajar Biasa []

*******
Niatnya tadi mau bikin cerpen, eh malah jadi begini. Sebenarnya ini terinspirasi dari mas Agung Adiwangsa. Mungkin kedepannya bakal ngikutin idenya, bikin surat-surat gitu deh.