Halo Nona Nay. :)
Apa kabarmu? Semoga sehat selalu.
Iya. Sudah hampir dua Minggu aku menunggu surat balasan darimu. Setiap pulang dari aktivitas keseharianku, aku selalu mampir ke teras rumah. Melihat dan memeriksa isi kotak surat rumahku. Setiap aku tengok kotak tua itu selalu saja tidak ada surat dan kabar darimu. Hanya ada surat lain dari layanan asuransiku yang kini sudah menumpuk di meja ruang tengah.
Aku sempat khawatir dan galau. Aku kira kamu sudah lupa denganku. Sempat terpikir olehku untuk mengabarkan surat lainnya untukmu. Tapi, niat mengirimkan surat lainnya untukmu, aku batalkan. Aku hanya takut dinilai cerewet olehmu. Dan takut juga mengganggu kesibukkanmu. Kegelisahanku menanti surat balasan darimu sudah aku ceritakan kepada gadis teduhku. Ia selalu menenangkanku dan mengatakan, 'mungkin nona sedang sibuk, bersabar lah!'. Ucapnya selalu begitu.
Nona, aku baru saja mendapatkan gadis teduhku. Saking teduh kantung matanya terlihat teduh seperti bayangan pohon petai yang terbentuk dari sinar matahari. Teduh dan sejuk. Kenapa pohon petai? Iya, Nona. Gadis teduhku ini dia suka sekali petai. Bahkan dia juga suka dengan jengkol.
Nona, apakah kamu suka juga dengan petai dan jengkol?
Oh, iya. Maaf tawaranmu mengenai lelaki teduh sepertinya aku tolak. Selain karena aku sudah mendapatkan gadis teduh. Aku juga menebak bahwa lelaki teduh itu Paber, kan? Tidak, Nona. Terima kasih. Lelaki teduh itu untukmu saja. Aku sudah cukup dan bersyukur dengan gadis teduhku ini. Dia datang dari masa depan. Dia gadis teduhku, Non. Waktunya lebih cepat satu Minggu dari waktuku. Itu alamat yang dia tulis di gubuk mayanya, Non. Kamu pasti kenal dengan gadis teduhku ini, Non.
Nona, ternyata liburanmu cukup menyibukkanmu, ya. Aku membayangkan kamu yang kerepotan dengan membagi waktumu untuk kuliah semester pendekmu, dan membuat waktu untuk mengurus keluarga barumu. Btw, bagaimana kabar kerluargamu? Ran dan Run itu? Semoga mereka akur, ya. Dan tidak rebutan makan biskuit Whiskas.
Untuk liburanku, aku lebih banyak berleha lehanya, Non. Menghabiskan waktuku dengan tumbukan PR di rumahku. Tumbukan buku di rumah yang belum sempat aku baca habis. Serta jejeran dan jajaran stok film di netbook. Aku belum sempat melahapnya semua. Itulah pr pr ku. Liburanku habis dengan mereka saja. Benda benda sialan itu.
Nona, ada sesuatu hal yang mengganjal dalam diriku. Sudah lama kita tidak bertemu. Bermain di alun-alun bersama seperti dulu. Kapan kita bisa bermain lagi di alun-alun kota, Non?
Salam meong







