Tampilkan postingan dengan label Fiksi mini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi mini. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Februari 2016

Pria Pilihan Ibu

Tahun ini adalah genap lima tahun aku mengenalnya. Aku hingga saat ini tetap yakin dengan dia. Namun pagi itu, ibu mengenalkanku dengan pria pilihannya. Menceritakan senangnya ibu dengan pria pilihannya.

Bagaimana? Kamu mau, kan, dengan pria pilihan ibu?, tanya ibu.

Tidak, Bu, aku masih menunggu dia kembali, jawabku.

Kamu mau menunggu sampai kapan? Mau jadi perawan tua?, tanya ibu menyudutkanku.

Aku pergi ke kamar meninggalkan ibu. Memikirkan dengan matang tawarannya.

Nduk, cepat kemari, pria pilihan ibu datang!, teriak ibuku dari beranda rumah.

Lalu aku bersolek lebih cepat dari biasaya. Hanya make-up sekedarnya yang ku kenakan saat itu juga. Bergegas aku menghampiri ibu dan ayah.

Aku melihat ibu tersenyum dengan usil. Aku menangis haru biru penuh rindu.
Kulihat di luar rumah ada senyum yang tak asing. Senyum dia yang datang menjemputku. Dia datang lengkap dengan rombongan keluarga dan penghulunya.

Mereka adalah hadiah untukmu yang sudah setia menungguku, ucapnya dengan senyum kehangatan.

Sabtu, 25 April 2015

Ujian Kelas


Disebuah kelas fakultas kedokteran, bertanya seorang dosen kepada mahasiswanya.

“Bagaimanakah membuat pasien berkeringat?”
“Berikan dia obat untuk membuatnya berkeringat”

“Iya, yang lainnya.”
“Suruh pasien melakukan gerakan berlari dan gerakan pemanasan lainnya”

“Iya, yang lainnya.”

Secara teoritis mahasiswa kedokteran di kelas tersebut menjawab pertanyaan dosen. Namun entah seolah dosen tersebut kurang puas akan jawaban mahasiswa-mahasiswanya.

“Tidak adakah jawaban lainnya.”

Kelas mulai terdiam. Berpikir lebih dalam. Hendak mencari tahu jawaban yang diinginkan dosen atas pertanyaannya. Tiba-tiba dari belakang kelas seseorang menjawab.

“Jika semua jawaban kami tidak bisa membuat berkeringat, bawalah pasien itu ke dalam kelas. Dan suruh ia ikut ujian bersama kami”

Minggu, 12 April 2015

Mencari

Mencari



“Kita bebas. Tidak ada aturan yang memberatkan.”

“Hei nak. Tanpa aturan kau akan menjadi sampah, tidak memberi manfaat.”

Seketika teguran burung hantu itu menyadarkan burung-burung lainnya. Akhirnya mereka semua sepakat untuk mencari ketua.

“Di balik gunung ada burung perkasa, dia bisa memimpin dan mengarahkan hidup kita” Ucap burung merpati.

Kerumunan burung sepakat pergi ke belakang gunung. Tapi untuk kesana tidak mudah mereka harus melewati tujuh lembah dan tujuh bukit. Akhirnya dalam perjalanan banyak kelompok burung yang tidak mampu dan tewas di perjalanan.

Namun mereka yang sampai di sana, mendapatkan balasan yang setimpal. Mereka menemukan tokoh yang mampu membimbing hidup mereka.


*******
Memang untuk menemukan hal yang sesusai, dan dengan balasan yang setimpal tidak semudah mengedipkan mata. Seperti burung-burung dicerita atas, mereka harus melewati tujuh lembah dan tujuh bukit. Rintangan itu yang akan melatih burung-burung menjadikan mereka burung yang perkasa. Akhirnya mereka berhasil memantaskan diri mereka dan ikut dalam barisan burung perkasa.

Kamis, 02 April 2015

Perlombaan Lari

Perlombaan Lari
Perlombaan Lari

“Kau tau nak, kisah kura-kura melawan kelinci. Bukankah kura-kura berhasil mengalahkan kelinci dalam perlombaan lari.” Ucap ayah macan.

“Tapi itu hanya dongeng semasa kecil ku, tidak mungkin aku sanggup melawan teman-teman ku yang jauh lebih cepat dalam berlari.” keluh anak macan.

Lima menit lagi perlombaan lari akan segera dimulai. Para peserta lomba sudah siap menempati garis startnya masing-masing.

“Jangan khawatir anak ku. Lakukan saja yang terbaik, fokus pada garis finish. Kau pasti menang.”

“Terima kasih ayah”

Tembakan pistol pun mulai dibunyikan, bertanda perlombaan lari sudah dimulai. Peserta mulai berlari sekencang mungkin.

Akhirnya digaris finnis citah lah yang menang dan macan kalah.

*******
Terima kasih telah membaca semoga pesannya sampai. []

Minggu, 29 Maret 2015

Hancurnya Lembah

Hancurnya Lembah
Hancurnya Lembah
Pimpinan lembah berkata. “Lebih baik tempat ini ditutup jika kalian masih suka berpesta. Bukankah sudah diperingatkan jika kalian tidak berubah, maka desa ini tidak layak untuk kalian.”

“Kami rasa ini wajar, karena kami jenuh atas aktivitas harian kami” Kera pekerja memprotes. “Lagipula, kekayaan yang kami sumbangkan untuk pesta tidak banyak.”

Sementara Pimpinan lembah pergi ke desa sebrang. Ia berkata.

“Mohon selama kepergian ku jagalah lembah ini. Dan tinggalkan pesta itu.

Namun warga lembah masih selalu berpesta.

“Tenang kekayaan kita akan kembali, karena esok musim panen” ujar Kera pekerja.

Esoknya.
Musim panen tidak datang melainkan angin topan yang menghancurkan desa lembah.
*******
Edisi fiksi mini 100 kata, semoga bisa memberi manfaat. Terima kasih telah membaca. []