Tahun ini adalah genap lima tahun aku mengenalnya. Aku hingga saat ini tetap yakin dengan dia. Namun pagi itu, ibu mengenalkanku dengan pria pilihannya. Menceritakan senangnya ibu dengan pria pilihannya.
Bagaimana? Kamu mau, kan, dengan pria pilihan ibu?, tanya ibu.
Tidak, Bu, aku masih menunggu dia kembali, jawabku.
Kamu mau menunggu sampai kapan? Mau jadi perawan tua?, tanya ibu menyudutkanku.
Aku pergi ke kamar meninggalkan ibu. Memikirkan dengan matang tawarannya.
Nduk, cepat kemari, pria pilihan ibu datang!, teriak ibuku dari beranda rumah.
Lalu aku bersolek lebih cepat dari biasaya. Hanya make-up sekedarnya yang ku kenakan saat itu juga. Bergegas aku menghampiri ibu dan ayah.
Aku melihat ibu tersenyum dengan usil. Aku menangis haru biru penuh rindu.
Kulihat di luar rumah ada senyum yang tak asing. Senyum dia yang datang menjemputku. Dia datang lengkap dengan rombongan keluarga dan penghulunya.
Mereka adalah hadiah untukmu yang sudah setia menungguku, ucapnya dengan senyum kehangatan.


