Minggu, 31 Mei 2015

Surat Untuk Nona #5

Teruntuk Nona,

Nona, apa kabar? Sudah lama ya aku tidak menulis surat untukmu. Aku harap kamu tidak marah padaku. Bukanya aku melupakanmu atau sok sibuk, tapi memang seperti itu keadaanya. Nona kamu tahukan akhir-akhir ini aku lagi asyik dengan dunia blog. Melalui blog ini aku ikut gabung komunitas-komunitas blogger. Dan kamu tahu, dari komunitas tersebut aku bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru. Mereka adalah manusia-manusia hebat dan keren. Kebanyakan dari mereka adalah orang yang sudah pandai berbisnis dengan blognya. Ada juga dari mereka yang seorang penulis dan calon penulis. Bahkan ada juga yang sudah menjadi editor di beberapa majalah dan buku ternama.

Kamu tahu di sekolahku kini sudah ada komunitas blogger. Aku jadi ingat saat pertama kumpul dengan salah satu anggota komunitas itu. Ia adalah seorang wanita yang sexy. Maaf nona, aku harap kamu tidak marah dan cemburu. Dia memang sexy, sebab dia pandai sekali merangkai kata. Dia telihat cerdas dengan tulisan-tulisanya. Aku ingin belajar darinya. Quote pertama yang aku ingat darinya adalah “kalau mau jadi blogger yang penting konsisten menulis saja, dan perhatikan juga EYD. EYD itu penting”. Kurang lebih seperti itu, aku rada-rada lupa, nona.

Wanita itu adalah kenalan baruku di dunia blogging. Aku merasa akrab dengannya, meski baru beberapa kali ngeblog bareng di sekolah. Dan yang lucunya tiap kali ngeblog bareng dia pasti kita diem-diem saja. Tahu-tahu udahan saja dan berpamitan pulang. Mungkin memang tabiat kita adalah seorang pendiam. Dan mungkin juga karena aku dan dia memang tidak cocok. Aku cocoknya hanya dengan kamu, nonaku. Tapi ini berbeda saat di grup Whatsapp. Di grup yang paling cukup ramai adalah aku dan dia. Aku yang selalu bawel membicarakan dirinya di gup, selalu buka-bukaan tentang dirinya. Tidak banyak sih yang aku tahu tentangnya, itu karena aku dan dia satu komunitas blogger juga di komunitas lainnya. Sampai akhirnya hari ini aku terlalu bocor, dan mengumbar urusan pribadinya.

Niatnya tadi hanya bercanda. Aku tidak tahu, apakah dia marah? Atau tidak? Yang jelas setelah perbuatanku, aku menyesal dan aku rasa itu benar-benar kelewatan. Aku malu. Nona, aku tahu, aku harus minta maaf. Aku sudah lakukan itu, awalnya aku coba telepon dia sekali, tapi tidak diangkat. Sudahlah.. Kamu tahukan, nona. Aku ini seorang yang paling keras kepala, menurutmu. Aku orang yang paling males untuk memohon maaf dan berterima kasih. Bahkan kepada nona, aku pun enggan mengatakan maaf dan terima kasih. Bukannya aku egois, tapi entah kenapa bibirku enggan mengucapkan itu. Tapi berbeda dengan hatiku, yang seakan menjerit dan mengemis untuk memohon maaf.

Aku jadi ingat saat pertama kali aku mengemis maaf kepada cinta moyetku. Aku telepon cinta monyetku, dan dalam percakapan aku menangis di kamar. Meminta maaf dan meminta dirinya untuk balikan lagi denganku. Saat itu aku sambil menangis dan aku kegep oleh keluargaku. Sudahlah aku malu mengingat-ingat itu. Nona kamu tahu, aku memang seorang yang bocor. Mungkin ini alasan Tuhan membuat diriku seperi “ini”, harusnya aku bisa mengambil hikmahnya. Aku “begini”, agar aku tidak bocor sana sini.

Aku kesal dengan diriku sendiri. Nona, aku yang baru saja mendapatkan kenalan baru kini sudah dicap hitam oleh dirinya. Mungkin itu memang perasaanku saja, tapi aku rasa tidak. Aku baru saja merusak hubunganku dan jalanku untuk belajar menjadi penulis. Padahal ini adalah kesempatanku untuk belajar darinya. Seharusnya aku menghormati guruku, tapi aku sudah kurang ajar dengan guruku.

Kini aku tidak sanggup membanyangkan jika bertemu dengan dirinya. Pasti aku akan kena marah abis-abisan darinya. Nona tolong aku, ajari aku untuk bisa merangkaikan kata-kata maaf untuk dirinya. Bagaimana aku harus minta maaf kepada guruku ini, nona? Aku juga ingin memohon maaf kepadamu, nona. Di suratku kali ini aku lebih banyak menceritakan wanita lain, bukan maksudku menduakanmu. Aku harap kamu paham dan mengerti aku. Minggu depan apa kita bisa bertemu? Aku ingin bercerita lebih panjang kepadamu, nona.

Salam maaf


Pelajar Biasa. []

5 komentar:

  1. Minta maaf itu mulia. Ngapain malu? :)

    Ya udah, buat pelajaran aje, Coy.

    Kalo bercanda pikirin perasaan orang juga. :))
    Pinter-pinterlah dalam berkomedi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. minta maaf itu memang mulia.

      masih baper gue nih.. takut jadi putus hubungan pertemanan.
      berasa kena tulah gue :(

      Hapus
  2. Hilangkan malu, gengsi, juga egois untuk meminta maaf.
    Huh.
    Payah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku memang payah. :(
      Itu sebabnya aku doyan buah pepayah.

      Hapus